Got stuck? Think simple, back to basic

Sebagai instruktur, ada rasa was-was ketika tiba waktunya kita mengajukan murid untuk menempuh ujian, terutama ketika kita mendapati bahwa kemampuan mereka tidak memenuhi standar materi yang diujikan.

Mendekati hari ujian kenaikan sabuk, saya berterus terang kepada kohai-kohai saya, bahwa saya mendapati standar teknik mereka mulai menurun, dibandingkan dengan standar yang pernah mereka jalankan di ujian kenaikan sabuk sebelumnya.

Berkaca pada diri sendiri, saya berusaha mencari tahu kemungkinan-kemungkinan apa saja yang menjadi kesalahan saya sebagai instruktur dalam menjalankan kelas. Dari jejak rekam pengalaman pribadi serta membandingkan diri saya di masa lalu dengan kohai-kohai saya sekarang ini, ada satu persamaan yang kemudian saya temukan: standar kualitas akan menurun jika fundamental latihan dikesampingkan.

Saya sempat melewati masa-masa jenuh akan fundamental, dimana daya tarik latihan sepenuhnya ada di latihan waza, maka tandoku-dosa (latihan tunggal, beberapa diantaranya yang paling dasar meliputi kokyu, aiki-taisoashi & te-sabaki, serta ukemi) pun dikesampingkan, saya sering sengaja datang terlambat, untuk menghindari sesi pemanasan, dimana sebenarnya ini adalah kesalahan terbesar dalam latihan yang bisa kita lakukan. Bertolak dari situ pula lah saya mendapati pengetahuan teknik saya bertahun-tahun “mentok”, saya fasih akan teknik, tapi kosong akan makna latihan.

Dari situ pula, satu persatu hambatan mulai saya temukan, jangankan membayangkan bagaimana waza dapat dipraktekkan untuk membela diri, teknik saya hanya bisa dilakukan dengan teman satu dojo yang terbiasa berlatih bersama, tapi ketika saya berlatih di dojo lain, atau bertemu dengan praktisi beladiri lain, saya adalah nol besar yang tergores tipis diatas kertas.

Menyandang sabuk hitam, bukan berarti berhenti belajar, tapi ketika seluruh silabus dari kurikulum sudah dihafal, apa lagi yang bisa kita lakukan? Satu hal yang saya temukan dalam latihan adalah, ketika saya berlatih secara lengkap, maka kualitas teknik dengan mudah (setidaknya) terjaga, maka saya pun melakukan hal yang berlawanan dari apa yang biasanya dilakukan para instruktur di  dojo  lain:

1. Datang lebih awal

Adalah satu dari pelanggaran etika dalam budo, ketika seorang kohai datang latihan terlambat, jangankan dibanding sensei-nya, ia bahkan harus datang lebih awal dari senpai-nya. Namun sebagai instruktur, saya terbiasa datang lebih awal dan menyiapkan dojo bagi para kohai, selain memberi contoh (walaupun sangat jarang orang Indonesia bisa belajar dari contoh), ini menjamin saya bisa menjalankan latihan secara lengkap.

2. Belajar dari dasar

Ketika seorang aikido-ka menyandang sabuk hitam, etika sebagai shodan adalah “mulai belajar”. Salah satu kekurangan dari etika beladiri lokal adalah, seseorang dianggap mumpuni ketika ia sudah menyandang sabuk hitam. Khususnya dalam beladiri Jepang yang eksis di Indonesia, gelar sensei sayangnya sering disandang dengan kesombongan, sehingga dalam sesi latihan, seorang sensei tidak lagi berlatih.

Kebalikan dari ini, saya merasa posisi saya sebagai instruktur adalah beban tersendiri, karena ketika saya harus senantiasa menyuntikkan ilmu kepada para kohai, saya hampir tidak mendapat porsi untuk turut berlatih dalam satu sesi latihan. Tapi dibalik ini semua, adalah satu keheranan tersendiri ketika saya masih bisa setidaknya mempertahankan kualitas teknik yang bahkan belum bisa diserap sepenuhnya oleh para kohai. Hanya ketika kemudian saya melihat beberapa kohai pemula yang mengalami peningkatan kualitas yang cukup signifikan, barulah saya menyadari kesamaan diantara saya dan mereka, yaitu, kami menjalani latihan secara lengkap, dari peregangan di awal hingga za-gi kokyu-ho di akhir latihan.

3. Latihan fisik

Latihan fisik adalah hal yang paling tidak pernah dilatih di aikido. Persepsi bahwa dalam latihan penggunaan otot harus diminimalisir berujung pada praktisi yang lemas dan tidak bertenaga, dimana sebenarnya latihan bertujuan untuk membangun fisik yang sehat, otot yang rileks namun teknik yang tetap memiliki kekuatan.

Adalah sindrom yang umum diderita para yudansha, yaitu kami terbiasa akan sesi dojo  yang hanya menempatkan kami dalam posisi mengajar, sehingga berlatih dengan tempo yang konsisten adalah hal langka, yang kemudian membuat kami “quit even before it finish”. Jangan heran ketika anda berlatih dalam kelas yang diisi oleh banyak praktisi yudansha, kemudian mereka bahkan sudah duduk seiza sebelum instruktur meneriakkan “yamete“. Sesungguhnya kami memiliki daya tahan fisik yang payah karena tidak pernah ikut berlatih ketika sesi dalam dojo berlangsung.

Hal ini pulalah yang membuat saya merasa perlu berlatih murni secara fisik. Ada satu kutipan dari Vladimir Vasiliev, instruktur terkemuka dari Systema: “Ketika otot terlatih, maka daya tahannya meningkat dan usianya pun menjadi lebih panjang”, sebuah ungkapan yang sepertinya bertolak belakang dengan metode Systema yang sepenuhnya rileks. Namun sesungguhnya ketika kita berlatih murni secara fisik, maka vitalitas dan stamina pun meningkat, otomatis pula, salah satu tujuan latihan, yaitu kesehatan pun tercapai. Manfaat dari latihan fisik bagi seorang aikido-ka bukanlah kekuatan otot yang bisa terapkan dalam teknik, namun daya tahan serta stamina yang bisa membuat kita berlatih lebih lama dan lebih fokus.

4. Menjaga kesehatan

Sebagai seorang instruktur, berapa dari anda yang memperhatikan pola makan dan istirahat? Dari lebih dari sepuluh  dojo yang berada di bawah pengawasan organisasi saya, mungkin tidak lebih dari lima instruktur yang memperhatikan kesehatannya, ini pula yang menempatkan aikido dalam salah satu jajaran ilmu beladiri yang paling tidak sehat. Kita adalah satu dari aliran-aliran ilmu beladiri yang dipenuhi oleh praktisi-praktisi gemuk dengan resiko penyakit kronis. Bagaimana dengan Jepang sendiri? Tidak usah ditanya, negeri asal aikido  ini mengevaluasi keshatan seluruh warganya setiap tahun, bisa dibilang setiap tahunnya seluruh penduduk Jepang wajib melakukan medical check-up di posyandu.

Bertolak dari sini, gaya hidup adalah salah satu hal yang sangat saya pertimbangkan, sebagai praktisi, adalah sudah seharusnya kita menjalankan gaya hidup yang sesuai dengan profesi, maka dari sini pula lah saya menjalankan diet yang yang seimbang, walaupun pola istirahat masih berantakan, setidaknya satu dari PR saya sudah beres. Ini juga yang bisa menjamin kita dapat berlatih hingga hari tua, untuk terus belajar dan bisa meneruskan ilmu ke generasi selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: