Aikido dan Kebugaran

Saya menulis artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi ketika berlatih dengan sesama praktisi. Dimana saya dan beberapa rekan mengira bahwa sensei sudah meneriakkan “yame”, sementara saya dan beberapa teman sedang asyik membantu salah satu kohai kami menggodok teknik.

Dari belasan peserta latihan, kami berempat mampu berlatih secara konstan, dimana rekan-rekan yang lain sudah terduduk dengan nafas terengah-engah. Sensei mempersilahkan kami untuk melanjutkan latihan, karena peserta lain duduk semata karena mereka sudah kelelahan.

Berapa banyak dari anda sesama praktisi yang mengalami hal ini? Saya pribadi sangat menyayangkan jika seorang praktisi memiliki stamina yang berada jauh di bawah standar, karena disaat kita memasuki level yudansha, maka disaat itu pula lah tuntutan untuk belajar lebih banyak pun meningkat.

Adalah lumrah terjadi di Indonesia, ketika seorang shodan(dan-1) terpaksa harus menjadi instruktur, dimana sebenarnya, secara tradisi beladiri di Jepang, seseorang berhak menjadi asisten dari sensei-nya ketika ia minimal berada di level sandan (dan-3). Dengan demikian, di Indonesia, bagi seorang shodan, kesempatan untuk belajar otomatis berkurang ketika ia mulai menyandang sabuk hitam. Hal ini diperparah dengan salah persepsi yang umum terjadi di kalangan yudansha junior. Menjadi penyandang sabuk hitam seolah mendapatkan previlese untuk mengurangi porsi latihan, boleh datang terlambat, boleh hanya menjadi nage, boleh tidak ikut pemanasan, dll., sementara detail-detail kecil yang bisa memperkaya kualitas latihan, justru ada di hal-hal yang biasanya kita pangkas.
Ada satu ungkapan yang beredar di kalangan praktisi beladiri lain, bahwa definisi Aikido-ka adalah sekumpulan orang-orang obesitas dan penyakitan, yang berkhayal bahwa mereka punya kemampuan beladiri. Saya akui, hal ini sedikit banyak benar. Sangat sedikit Aikido-ka yang saya kenal, yang juga menyertakankan kebugaran dan kesehatan fisik dalam latihannya, kita hanya berfokus pada kualitas teknik saja, sementara kita lupa, untuk mengasah kemampuan, durasi waktu dan kemampuan untuk memanfaatkan waktu tersebut secara efisien juga dibutuhkan. Kita ingin punya teknik yang canggih, tapi dalam kurun waktu sekitar dua jam berlatih, satu jamnya kita gunakan untuk duduk dan mengembalikan nafas yang sudah kepayahan, lalu kapan teknik yang canggih itu akan tercapai?
Stamina dalam berlatih Aikido sangatlah penting, karena stamina dibutuhkan saat memproses memori otot melalui gerakan dan kontak fisik yang dilakukan berulang kali. Adapun demikian, otot (muscles) bukanlah aspek fisik yang diutamakan untuk dilatih di Aikido, karena pada prinsipnya, Aiki bukanlah sesuatu yang dicapai dengan memanfaatkan tenaga fisik yang berasal dari otot, dan disinilah semua salah kaprah dimulai.
Meminimalisir penggunaan otot dan tenaga fisik bukan berarti tidak menggunakan keduanya sama sekali, otot dan tenaga fisik tetap terpakai setiap kali kita bergerak, dan untuk tetap bisa berfungsi dengan baik maka otot perlu dilatih. Sekali saya mengutip dari Vladimir Vasiliev, praktisi beladiri dan instruktur terkemuka dari Systema: “jika otot terlatih, maka usianya menjadi lebih panjang”. Untuk informasi, Systema yang saya tahu, sama sekali tidak menggunakan tenaga dari otot, sistem ini bahkan menurut saya jauh lebih lembut dibandingkan Aikido, namun tetap saja, fisik perlu dilatih dengan tujuan agar seorang praktisi bisa terus menerus berlatih.
Menurut fitness trainer saya, usia bukanlah faktor yang menentukan kemampuan fisik manusia. Dengan berlatih fitness hampir setiap hari serta tiga aliran beladiri dalam seminggu, saya berhasil membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa teori tersebut benar. Dengan keseharian yang sama, adalah hal yang cukup berat bagi saya untuk berlatih Aikido empat hari dalam seminggu, sedangkan saat ini, saya melakukan latihan fisik yang kuantitasnya dua kali lipat lebih banyak tanpa kesulitan.
Dulu saya berpikir bahwa kemampuan fisik saya sudah menurun seiring usia, ternyata tidak, kemampuan fisik saya justru menurun karena saya tidak pernah melakukan latihan fisik.
Kondisi jaringan otot akan terjaga, bahkan menjadi lebih baik dan efisien jika dilatih. Demikian juga dengan persendian tulang cairan pelumas yang dibutuhkan persendian, akan terus diproduksi oleh tubuh selama persendian mendapatkan rangsangan berupa gerakan yang dilakukan secara konstan dan berkala. Kepadatan tulang juga hampir sepenuhnya bergantung pada aktivitas olahraga, karena kepadatan tulang akan terangsang jika ia berada dalam tekanan aktivitas fisik, bukan susu.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah diet, perlu dicatat, bahwa definisi dari diet bukanlah mengurangi konsumsi makanan, melainkan pengaturan waktu makan dan apa yang kita makan.
Dalam dunia kesehatan, dikenal beberapa alat yang mampu secara sederhana menentukan usia fisik kita, idealnya, usia fisik dan umur seharusnya tidak terpaut selisih yang terlampau jauh, sekitar lima tahun lebih tua adalah batas yang cukup ditolerir. Di umur saya sekarang ini, usia fisik saya tiga belas tahun lebih muda. Menurut trainer saya, ini adalah pencapaian yang hanya bisa dicapai dengan diet yang baik dan pola istirahat yang berkualitas: memperhatikan kualitas asupan makanan, tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, serta pola istirahat yang baik telah membuat fisik saya tiga belas tahun lebih muda.
Dengan usia fisik yang lebih muda, maka kemampuan untuk beraktivitas pun meningkat, ini berdampak langsung pada latihan, dimana kualitas teknik juga akan terus meningkat dikarenakan kuantitas serta kualitas yang bisa kita curahkan dalam latihan. Perlu dicatat juga, bahwa jika kita hendak menggiatkan latihan fisik untuk menunjang latihan Aikido, maka jenis latihan yang diperlukan lebih berfokus pada memperpanjang usia otot dan meningkatkan stamina, sedangkan jenis latihan seperti bodybuilding yang berlebihan akan mengurangi fleksibilitas yang tetap dibutuhkan dalam latihan Aikido.
Latihan cardio seperti jogging atau treadmill cukup dianjurkan, terutama jika kita memiliki masalah berat badan. Memaksimalkan fungsi jaringan otot juga akan membantu seorang Aikido-ka untuk mampu mendorong fisiknya ke ambang batas, jadi otot tetap perlu dilatih, push-up, sit-up, squat, serta pull-up yang dilakukan secara berkala akan melatih otot kita untuk dapat difungsikan secara maksimal, tentunya dengan tetap mempertahankan konsep rileks.
Satu hal yang saya temukan setelah menambah porsi latihan fisik adalah: kemampuan fisik tidak dibatasi oleh usia, melainkan, ia dibatasi dengan rasa malas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: