Monthly Archives: April 2015

Dojo Lain: Antara Ego dan Mencari Ilmu

Sebagai instruktur yang mengampu sebuah dojo, saya sering dimintai izin oleh para murid ketika mereka ingin berlatih di dojo lain, dimana sesuai dengan peraturan organisasi, bahwa berlatih di dojo lain harus sepengetahuan instruktur kepala dan instruktur dojo asal. Tentu saja izin ini dengan mudah saya berikan, karena saya sendiri memiliki pengalaman yang menyenangkan ketika kita bisa menyambangi banyak dojo untuk berlatih. Berlatih di dojo lain, adalah salah satu cara bersosialisasi, serta metode musha shugyo modern.

Bagi mereka yang masih berada di fase beginner, berlatih di dojo lain bermanfaat untuk menambah wawasan dan melatih mereka untuk mampu berpikir kritis. Bagi para praktisi senior, cara ini menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan, serta membiasakan diri untuk selalu mampu beradaptasi dengan situasi yang berbeda.

Satu hal yang disayangkan, seiring berkembangnya sebuah organisasi, ada sebagian kecil praktisi senior yang memiliki pemikiran sempit dengan tidak mengizinkan para juniornya berlatih di dojo lain, dimana sebenarnya fase ini tetap dibutuhkan agar mereka tidak menjadi praktisi dengan pikiran sempit dan fanatik. Sebagian terlalu khawatir bahwa muridnya akan melakukan kesalahan di dojo lain, dimana hal ini sudah pasti terjadi karena perbedaan pendekatan latihan setiap dojo, sebagian terlalu angkuh dan merasa paling pintar sehingga muridnya dirasa tidak perlu mencari ilmu di tempat lain, sebagian sangat disayangkan tidak mempercayai kemampuan muridnya untuk beradaptasi di tempat lain.

Saya sendiri secara objektif mengakui kepada para kohai bahwa saya tetaplah seorang manusia biasa, bahwa sebaik apapun skill yang saya punya, itu tetaplah tidak lengkap, maka dari itu saya mendorong mereka untuk berlatih juga di dojo lain, untuk menimba ilmu dari instruktur lain dan pengalaman baru dengan orang-orang baru.

“Beda sensei, beda detail teknik” hal itu yang sering saya tekankan pada para kohai, bahwa setiap praktisi, sesuai dengan pengalamannya, memiliki pengetahuan yang berbeda-beda, sehingga saya harapkan para kohai bisa mempelajari hal-hal baru yang dapat memperkaya pengetahuan mereka juga.

Namun, hal ini bukannya tidak beresiko, untuk bisa melepas seorang murid untuk menimba pelajaran di tempat lain, seorang guru tentunya harus memastikan bahwa sang murid memiliki dasar yang cukup kuat, sehingga proses ini dapat memberikan dampak positif bagi si murid, bukannya malah memberikan dampak yang buruk, seperti contohnya kebingungan yang terjadi karena perbedaan detail antara satu instruktur dan yang lainnya, atau pola struktur latihan yang berantakan karena si murid mencampurkan berbagai detail teknik yang sebenarnya tidak ia perlukan.

Musha shugyo di dunia modern sebenarnya justru bertujuan untuk mengasah dan menjajal skill non-teknik, yaitu kesabaran, sifat kritis, kemampuan observasi dan adaptasi, kejujuran, keterbukaan, kerendahan hati, serta kesungguhan belajar, karena ketika seorang Aikido-ka mengunjungi dojo lain untuk menjajal kemampuan tekniknya, maka ia kembali masuk ke ranah kompetisi yang dijauhi oleh O-sensei, ego kembali diumbar, dan alih-alih menuju pada harmoni, ia akan kembali terjebak dalam ego-nya sendiri untuk menjadi “yang terkuat” atau “yang terbaik”.

Sebagai pelatih, saya tidak merasa sebagai yang terbaik, adapun saya berusaha semaksimal mungkin memastikan bahwa saya tidak akan menjerumuskan para kohai, saya mendukung mereka yang senang mengisi waktu luangnya dengan berlatih di dojo lain dan menganjurkan mereka untuk bisa memperoleh poin-positif dari tempat yang mereka datangi. Adapun demikian, saya menyadari bahwa kultur di setiap dojo pasti berbeda, sehingga perlu ditekankan kepada mereka untuk senantiasa mau beradaptasi dengan lingkunga dan menerima masukan yang datang dari pihak lain, jika tidak, bagaimana anda bisa mengisi cangkir yang sudah penuh?

Advertisements

%d bloggers like this: