Yamaoka Tesshu

Swordsmanship:
I am not struck,
Nor is my opponent hit.
Unobstructed I move in
And attain the ultimate.

Against an opponent’s sword
Assume no stance
And keep your mind unmoved.
That is the place of victory.

Where swords meet
Throw off illusion.
Abandon yourself
And you will tread on the living path.

Spirit, swift
Mind, calm
Body, light
Eyes, clear
Technique, decisive!

Yamaoka Tesshu (山岡 鉄舟, 10 Juni 1836 – 19 Juli 1888) adalah seorang ahli pedang terkenal di periode Bakumatsu, juga merupakan salah satu tokoh penting dalam masa Restorasi Meiji.

Terlahir dengan nama Ono Tetsutaro, Yamaoka Tesshu dikenal sebagai pendiri perguruan Itto Shoden Muto-ryu. Nama Yamaoka sendiri diadopsinya setelah ia menikahi saudari dari gurunya, Yamaoka Seizan, kepala perguruan tombak Yamaoka di Edo (sekarang Tokyo), dengan demikian menjadi penerus dari dojo Yamaoka pada usia 17 tahun, di saat yang sama bergabung dengan Kobukan, institut militer pemerintah.

Yamaoka Tesshu memulai studi ilmu perang sejak ia berusia 9 tahun dalam tradisi Jikishinkage-ryu, lalu Ono-ha Itto-ryu, setelah kepindahan keluarganya ke Takayama, aliran lain yang juga ditekuninya adalah Nakanishi-ha Itto-ryu. Di usia dewasa, ia dikenal karena kemahirannya dalam ilmu pedang dan kaligrafi, ia juga dikenal sebagai salah satu dari para samurai yang akrab dengan Zen dan Buddhisme.

Selama hidupnya Yamaoka konon telah menghasilkan lebih dari 1 juta karya seni bernuansakan Zen. Yamaoka begitu dikenal dalam sejarah Jepang karena karirnya yang gemilang sebagai seorang samurai. Selain pernah menjabat sebagai kepala satuan pengawal elit Tokugawa Yoshinobu (shogun ke-15), ia pernah menduduki jabatan sebagai gubernur propinsi Imari, walaupun propinsi tersebut tidak bertahan lama.

Yamaoka Tesshu meninggal di usia 53 tahun, di saat-saat terakhir, para muridnya menghentikan kegiatan latihan untuk menemani sang guru, hanya untuk mendapati Yamaoka menghardik mereka untuk kembali berlatih karena baginya tidak ada kehormatan yang lebih tinggi di saat terakhirnya dalam hidup kecuali melihat para muridnya tetap tekun berlatih. Ia meninggal dalam posisi za-Zen, meninggalkan sebuah haiku:

Mengencangkan perutku

menahan perih

Suara gagak di pagi hari

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: