Aiki & Non-Egosentrisme

Sulit untuk menemukan hubungan antara ego dan latihan di masa-masa awal kita berlatih, namun seiring waktu, ketika tantangan dan tuntutan meningkat, bersamaan dengan naiknya peringkat dalam hal sabuk, hubungan diantara keduanya makin terlihat.

Ketika saya mencoba memperhalus eksekusi sebuah tehnik, muncul pertanyaan dari para kohai, bagaimana hal tersebut dapat dilakukan? Pada awalnya saya menggeleng tidak tahu, karena saya hanya merasa hal tersebut dapat dilakukan dan saya melakukannya begitu saja. Namun ketika kami membahasnya dalam sebuah diskusi, kami menemukan bahwa disaat ego muncul dan nage menyatakan niatnya untuk mengunci, melempar atau membanting, maka niat tersebut termanifestasikan dalam tehnik, otot pun bekerja dengan keras, berusaha mempertegas niat tersebut, tehnik pun masuk ke dalam kondisi fisik yang mengandalkan manipulasi sendi dan adu daya tahan otot dan persendian antara nage dan uke.

Tentunya kita semua sepakat bahwa “hati” tidak lain adalah buah pikiran yang timbul di otak, dan tidak bisa dipungkiri bahwa 99% apa yang dipikirkan oleh otak kemudian dapat termanifestasikan secara fisik, baik disadari ataupun tidak. Eo dan non-ego paling mudah tergambarkan ketika kita melakukan latihan za-gi kokyu-ho, dan di latihan inilah para kohai saya bertanya bagaimana hal tersebut dapat dengan mudah dilakukan, singkatnya mereka bertanya, bagaimana cara kita mengalahkan ego di dalam diri? Berikut ini adalah beberapa praktek yang saya temukan:

1. Rei:

Rei seringkali dianggap remeh dalam latihan, namun melakukan rei dengan benar dapat mengikis ego dengan signifikan. Ketika kita merunduk kepada rekan dengan memusatkan gerakan pada centrum serta menyatakan permohonan untuk dibantu dalam latihan atau berterimakasih dengan tulus, sesungguhnya tidak ada ego yang muncul pada saat rei dilakukan. Keadaan pikiran yang sama juga sebaiknya diterapkan pada saat latihan tehnik.

2. Senantiasa meminta kritik

Kritik umumnya diberikan, namun untuk mengikis eksistensi ego, praktek meminta kritik dapat dilakukan. Kritik tidak selalu berasal dari senpai, kritik juga dapat datang dari kohai, dan ketika kritik tersebut dilontarkan, baik secara objektif maupun subjektif, menerima dan mencernanya dengan objektif kemudian akan mengesampingkan eksistensi ego.

3. Berlatih di bawah pimpinan kohai

Ilmu dapat datang dari siapa saja, baik dari seseorang yang lebih tua, maupun mereka yang lebih muda. Pengalaman setiap orang berbeda, ada pengalaman yang umum dialami oleh setiap orang, dan ada pengalaman-pengalaman hidup berbeda yang dialami individu-individu tertentu dalam hidupnya. Sebagai contoh, dalam lingkup dunia ilmu beladiri, pengalaman bertanding mungkin dimiliki oleh setiap atlet cabang olahraga beladiri, namun pengalaman praktek di jalanan merupakan hal yang langka.

Sebagai pelatih, saya tidak memiliki pengalaman dimana saya harus mengaplikasikan pengetahuan saya di jalanan, namun tentunya beberapa kohai memiliki pengalaman tersebut, dan tidak ada salahnya sebagai seorang senpai untuk menerima pelajaran dari kohai-nya. Dan ketika hal tersebut dilakukan, superioritas hilang, pengetahuan baru datang, pikiran menjadi lebih terbuka dan tanggap.

4. Menggali hal-hal baru

Senantiasa belajar menghadapkan kita kepada fakta bahwa ada banyak individu yang memiliki pengetahuan lebih dibandingkan kita, dengan demikian ego dan superioritas hilang, yang ada hanyalah keinginan untuk tahu lebih banyak.

Mengakui keunggulan orang lain adalah memenangkan sebuah pertarungan, karena sebenarnya, senantiasa merasa lebih unggul daripada orang lain tidak lain dan tidak bukan sama halnya seperti membuka borok kita di muka umum. Dalam topik ilmu beladiri Jepang, kesombongan dan perasaan superior merupakan suki (opening: celah), karena ketika kecongkakan timbul dalam hati, sesungguhnya timbul pula celah dalam pertahanan, itulah mengapa bagi para samurai adalah hal yang umum untuk menghadapi setiap pertarungan dengan kesiapan untuk mati, dengan demikian semua celah ditutup dengan senantiasa waspada dan tidak lengah.

Adalah hal yang tabu bagi seorang samurai untuk menganggap remeh lawan yang terbukti inferior sekalipun. Mentalitas ini juga perlu disadari oleh kita, manusia di zaman modern, karena mengakui kelemahan kita menjadikan kita lebih waspada, dengan demikian kita terpacu untuk berpikir bagaimana untuk tetap sederajat dengan orang lain yang lebih superior tanpa harus merasa sombong ataupun rendah diri.

5. Meditasi

Meditasi sudah terbukti bermanfaat secara medis, namun bagaimana meditasi dapat disebut bermanfaat secara mental? Praktek meditasi yang melatih objektifikas, mengikis ego dan superioritas dilakukan dengan cara “mengamati pikiran”

Banyak praktisi yang merasa tidak sanggup melakukan meditasi dan duduk dalam waktu lama, namun sebenarnya perasaan tersebut timbul sebagai akibat ketidakmampuan kita mengendalikan pikiran, dikarenakan kita setiap hari terbiasa menuruti apa yang dikehendaki pikiran. Kita tidak mampu berjalan jauh, karena pikiran berkata bahwa kita punya kendaraan dan itu harus dimanfatkan, kita tidak kuasa menahan emosi negatif ketika diolok-olok hanya karena perasaan terhina, walaupun sebenarnya kejadian tersebut tidak memiliki pengaruh secara nyata dalam hidup sehari-hari.

Dengan meditasi, kita mengamati apa yang dilakukan oleh pikiran, bagaimana ego memanfaatkan pikiran untuk menggerakkan kita secara fisik dan melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Bermeditasi, duduk dengan ketenangan total, mengamati pikiran dengan objektif, meletakkan kita dalam keadaan non-responsif, dimana tubuh tidak secara impulsif menaati apa yang timbul dalam pikiran, dengan demikian kita dapat memisahkan antara kehendak dan ego, mampu mengendalikan pikiran, melakukan apa yang kita kehendaki secara sadar dan bukan apa yang dicetuskan oleh ego.

6. Menjadi uke

Memposisikan diri sebagai uke bukanlah memposisikan diri sebagai “korban” dalam latihan, namun sebenarnya memposisikan diri sebagai uke adalah belajar bagaimana menutup celah dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi agar serangan yang datang tidak mengakibatkan dampak yang membahayakan, menjadi uke yang benar adalah menetralisir tehnik dengan sesuai, sambil terus berusaha mencari celah atas serangan yang dilakukan.

Dalam latihan Aikido, menjadi uke yang tepat adalah apa yang disebutkan diatas, ditambah dengan memberikan kesempatan bagi nage untuk mempelajari tehnik dan memberikan serangan sesuai dengan kemampuan nage tanpa ada kepura-puraan. Dengan menjadi uke, kita mengikis ego dengan cara memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berkembang.

7. Memegang amanat

Sesungguhnya hal ini sudah dilakukan sejak di masa-masa awal latihan. Di tingkatan-tingkatan awal, seorang praktisi memegang amanat dengan cara mengembangkan dirinya dan menjalankan perintah instruktur, dengan demikian ia membantu teman-temannya yang lebih senior dalam berlatih.

Ketika tingkatan semakin tinggi, tanpa mengurangi tanggung jawab yang sebelumnya, seorang praktisi mendapat tuntutan untuk bisa membimbing mereka yang lebih junior, dan membantu mereka untuk berkembang.

Memegang amanat sebagai dai-senpai ataupun fuku-shidoin meletakkan kita pada posisi pemegang tanggung jawab untuk membantu sensei dalam mengarahkan dojo sesuai dengan visi dan misi bersama, menjadi mediator dan penyambung lidah antara para kohai dan sensei, sekaligus sebagai acuan standar yang ditetapkan seorang guru untuk murid-muridnya yang berada di bawah tingkatan ini.

Hingga sesungguhnya, tingkatan dai-senpai atau fuku-shidoin merupakan langkah awal menuju tingkatan guru. Dalam Aikido, seorang sensei, dituntut untuk memiliki standar moral yang tinggi, kerendahan hati, ketulusan dalam mengajar, mumpuni dalam mendidik dan memberi contoh positif, serta pengalaman yang cukup untuk melatih. Kesabaran, dedikasi, dan menempatkan kepentingan para murid diatas kepentingan pribadi adalah syarat mutlak seorang sensei. Posisi ini bukanlah posisi untuk menegaskan eksistensi diri, namun menjadi guru dalam Aikido sesungguhnya adalah memegang tanggung jawab dan menjadi panutan.

Seorang kohai memegang amanat dari gurunya untuk mengembangkan diri sehingga kemampuannya mencukupi untuk berlatih dengan serius, seorang senpai memegang manat yang sama sekaligus amanat untuk membantu para kohainya berkembang, seorang sensei memegang amanat untuk membimbing para muridnya ke jalan yang benar, dimana amanat ini datang dari para muridnya sendiri, dari masyarakat dan sesuai dengan ajaran O’sensei.

Advertisements

One response to “Aiki & Non-Egosentrisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: