Belajar, Tanren, Keiko, dan Shugyo

Dikutip dari komentar video “Oyo-henka Waza” oleh Saotome Mitsugi shihan, tahap pembelajaran dalam Budo terdiri atas tiga tahap, yaitu:

1.Tanren
Tanren adalah tahap pertama pembelajaran, yang pada umumnya disebut latihan, ditekankan pada proses latihan yang repetitif. Tanren adalah konsep belajar yang ditanamkan kepada praktisi di tahap awal studi mereka tentang Budo, bertujuan utama untuk memperkenalkan metode, memberikan kesempatan menghafalkan teknik dalam kurikulum, memperkuat fondasi, dan mempersiapkan seseorang untuk membentuk sebuah konsep yang akan ia gunakan dalam belajar, menuju ke tahap kedua. Tanren adalah tahap pengenalan, introduction. Hampir dalam semua ilmu, tahap tanren ditempuh dalam waktu yang relatif singkat.

2. Keiko
Dalam tahap keiko, seorang praktisi memasuki sebuah kondisi dimana ia mulai berpikir. Jika dalam tahap tanren, seorang praktisi lebih memfokuskan studinya pada usaha untuk mengenal dan menghafal, dalam tahap keiko, seorang praktisi mulai berpikir, memperhitungkan dan mempertanyakan detail tehnik, dalam tahap ini pula konsep-konsep tehnik mulai didiskusikan, praktisi mulai dituntut untuk mengenal konsep teknis dari tehnik, memasuki tahap pengetahuan.
Keiko adalah belajar, dalam tahap ini praktisi mulai mengenal faktor-faktor intrinsik yang terdapat dalam studi, beberapa yang utama diantaranya adalah sejarah, fungsi dan struktur yang berkaitan dengan hal-hal teknis.

3. Shugyo
Setelah keiko, dengan jam terbang latihan yang lebih tinggi, seorang praktisi memasuki tahap shugyo. Dalam tahap shugyo, pengertian mulai dicari, dan seorang praktisi tidak lagi membatasi dirinya dalam konsep tehnik semata. Dasar dari pengertian adalah mengenal dan mengetahui. Dalam tahap ini, pengetahuan mulai diaplikasikan, dalam artian pengaplikasian diluar tehnik, dan selain untuk tujuan ilmu bela diri, pengetahuan yang diaplikasikan untuk memperoleh kebijaksanaan, wisdom (Kebijaksanaan) adalah applied knowledge in daily life (pengetahuan yang diaplikasikan dalam hidup sehari-hari).
Dalam tahap shugyo, seorang praktisi mulai menerjemahkan apa yang dipelajarinya dalam latihan untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Penerapan hasil studi seringkali disalahartikan kebanyakan praktisi sebagai penerapan tehnik, dimana konsep ini sebenarnya sudah dilewati dalam tahap keiko. Dalam tahap shugyo, tehnik tidak diterapkan, melainkan diterjemahkan . Tehnik diterjemahkan dari situasi konflik dalam pertarungan ke dalam situasi konflik dalam permasalahan hidup sehari-hari.

Tiga tahap ini tidak berarti bertahap secara tingkatan, namun lebih merujuk pada tiga jenis konsep belajar. Tapi untuk tujuan pemahaman tidaklah dianjurkan untuk terus-menerus berkutat dalam tahap tanren. Wisdom (kebijaksanaan) hanya bisa dicapai melalui tahap shugyo.

Dapat diandaikan, tanren adalah fondasi, keiko adalah proses belajar, dan shugyo adalah proses aplikasi. Berlatih rutin selama satu dekade, menunjukkan saya bagaimana mereka yang sudah mencapai tahap shugyo sering kembali menjalani konsep tanren dan keiko kembali. Menurut pengalaman pribadi saya selama berlatih, ada tiga jenis praktisi jika kita melihat dari sudut pandang bagaimana mereka belajar:

1. A Sincere Beginner (Pemula yang Tulus)
Mereka yang mengosongkan gelas dan mulai dari tanren, lalu secara bertahap menjalani keiko, lalu shugyo. Tipe praktisi ini adalah mereka yang fleksibel, cepat belajar dan seorang praktisi yang mampu mempertahankan shoshin sepanjang hidupnya. Tidak banyak bertanya, tidak memasang target, dan haus akan pengetahuan.

2. An Awkward Expert (Ahli yang Canggung)
Mereka yang terus-menerus berkutat di tanren dan keiko, pandai dan cerdas, namun tidak bijak, jenius dalam latihan namun payah dalam hidup, selalu hidup atas dasar rasa takut dan semangat kompetisi yang tidak sehat, ingin selalu ungggul dengan mengandalkan segala cara dan mampu mencapainya dengan cepat, yang selalu hidup dengan self-insecurity, mereka yang tahu, namun tidak mengerti.

3. A True Scholar (Sarjana Sejati)
Mereka yang tidak berhenti belajar, biasanya tipe praktisi seperti ini bermula dari tipe 1, tapi lebih cepat dalam mengerti inti studinya, mereka ahli, namun dengan cara yang sederhana yang mampu dimengerti banyak orang. Tipe ini tidak canggung untuk naik turun dari tahap tanren, keiko, shugyo, kembali ke keiko lagi, ke tanren lagi, kembali ke keiko lagi, lalu shugyo dan seterusnya. Dalam konsep pemikiran mereka, semua tahap adalah shugyo, dan pengalaman dalam tahap tanren pun tetap bisa mengantarkan mereka pada wisdom (kebijaksanaan), bahkan dalam satu saat mereka bisa menjalani tanren, keiko dan shugyo sekaligus.

Budo modern tidak hanya berkutat di tanren dan keiko, namun bertujuan untuk membawa kita pada shugyo yang tidak berakhir. Tidak dapat dipungkiri bahwa tanren dan keiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari studi Budo, namun tanren dan keiko saja tidak bisa membawa kita pada pengertian dan kebijaksanaan, maka dari itu lah kita mengenal shugyo. Ketiga tahap ini harus dikenal sepenuhnya, karena ketiga-tiganya berperan penting dalam latihan.
Budo modern adalah belajar hidup, it’s a study of life, bukan belajar untuk bertarung, not a study on how to fight. Namun sebagian besar praktisi tidak mengerti perbedaan antara Budo dan Bujutsu. Saotome-shihan meminta kita untuk bisa membedakan antara petarung dan ksatria, antara jalan ksatria dan ilmu bertarung.

Most people want to be strong, and they always want to fight more and more enemy. They were making negativity, always look for enemy, enemy, enemy, this kind of mentality will never make your life happy
(Saotome Mitsugi shihan, Oyo-henka Waza)

Belajar dalam Budo harus menempuh tanren, keiko dan shugyo, dan berakhir pada pemahaman dan pencarian yang terus-menerus, itulah mengapa seorang Budoka sejati adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar, dan kebanyakan dari mereka yang demikian sulit untuk ditemukan, karena mereka terlalu sibuk dalam mengisi dan mengosongkan gelas mereka berulang-ulang kali.

Advertisements

One response to “Belajar, Tanren, Keiko, dan Shugyo

  • ekajogja

    “…dan kebanyakan dari mereka yang demikian sulit untuk ditemukan, karena mereka terlalu sibuk dalam mengisi dan mengosongkan gelas mereka berulang-ulang kali.”

    Dahsyat sekali kalimat tersebut 🙂

    “The path is the goal, the goal is the path.” _/\_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: