Daito-ryu Aiki-jujutsu dan Omoto-kyo: Dua Pilar Aikido

Figur Ueshiba Morihei, penemu Aikido, adalah satu yang sukar dipahami bagi para sejarawan ilmu bela diri walaupun pada faktanya masih ada ratusan saksi yang terhubung secara langsung dalam hidup dan karyanya, termasuk anak dan penerusnya, almarhum doshu Ueshiba Kisshomaru. Hidup Ueshiba dapat diandaikan seperti novel petualangan – berlatarkan budaya dan religi yang cukup asing bagi kehidupan modern di Jepang.

Secara khusus, pengertian yang mendalam berkaitan dengan peran penting oleh Takeda Sokaku dan Deguchi Onisaburo dalam perkembangan Ueshiba adalah sangat mendasar demi memahami evolusi spiritual dan tehnis yang memuncak dalam pembentukan Aikido modern. Takeda adalah penyebar Daito-ryu Aiki-jujutsu di abad kedua puluh di Jepang, dan Deguchi Onisaburo adalah cahaya pemimpin dari agama Omoto yang cukup berpengaruh. Ajaran dari Takeda membentuk landasan fisik bagi ekspresi Ueshiba dalam bentuk tehnik beladiri, dan sisi spiritual universal berasal dari ajaran religius Deguchi.

Daito-ryu Aiki-jujutsu

Takeda Sokaku

Selama lima atau enam tahun belakangan ini kami memberikan perhatian khusus pada pengaruh Daito-ryu Aiki-jujutsu terhadap Aikido modern. Sebelum itu, sangat sedikit informasi yang tersedia mengenai topik ini, bahkan bahan yang tersedia dalam bahasa Jepang. Gambaran awal dari hubungan sejarah antara kedua seni diwarnai oleh bias terhadap Daito-ryu dan Sokaku Takeda yang digambarkan secara negatif. Melalui sejumlah wawancara oleh kepala perguruan Daito-ryu, Tokimune Takeda, dan sebagian besar shihan, kami akhirnya dapat mempresentasikan sudut pandang alternatif mengenai hubungan antara Takeda Sokaku dan Ueshiba Morihei yang pada akhirnya dapat memberikan sudut pandang historis yang lebih objektif.

Untuk meringkas penemuan kami, Daito-ryu aikijujutsu jelas berpengaruh besar secara tehnik dalam Aikido, dimana sebagian besar tehnik Aikido memiliki pasangannya dalam kurikulum Daito-ryu. Ueshiba Morihei adalah salah satu murid Takeda Sokaku yang paling berbakat dan merupakan instruktur bersertifikasi untuk Daito-ryu dari tahun 1920 hingga pertengahan 1930. Ueshiba telah mengeluarkan banyak gulungan kitab yang isinya identik dengan yang diberikan oleh Takeda, kecuali bahwa referensi atas Daito-ryu dan Takeda kemudian tidak lagi tertera dalam dokumen-ddokumen ini.

Hubungan profesional antara Ueshiba dan Takeda cukup bermasalah, dan keduanya lambat laun semakin menjauh. Di tahun-tahun berikutnya dari hubungan mereka , sebelum wafatnya Takeda di tahun 1943, Ueshiba berusaha untuk tidak bertemu secara langsung dengan Takeda. Sejak saat itu, Ueshiba tidak lagi menekankan peran daari tehnik Daito-ryu dalam membentuk Aikido modern dan terkadang berbicara dengan nada remeh mengenai Takeda Sokaku di depan kerabat-kerabat dekatnya. Penerus tradisi Daito-ryu di lain pihak, dengan pengetahuan mengenai latar belakang Aiki-jujutsu Ueshiba dan perkembangan luas dari Aikido, umumnya menganggap Ueshiba sebagai pemberontak yang memodifikasi kurikulum perguruan untuk mencapai kesuksesan komersil.

Daito-ryu di masa sekarang, walaupun kalah dalam hal jumlah, tidak dapat dipungkiri merupakan perguruan jujutsu yang penuh semangat. Kelangsungannya di abad berikut terjamin walaupun kehilangan satu demi satu pakar tehniknya setelah era Meiji. Sebagian dari ketertarikan baru pada Daito-ryu dapat dipastikan berasal dari perhatian yang diberikan media seni bela diri mengenai Daito-ryu sebagai leluhur dari Aikido modern.

Selain dari sejumlah dojo independen seperti yang dipimpin oleh mendiang Sagawa Yukiyoshi,

Sagawa Yukiyoshi

kelompok Daito-ryu utama diantaranya: Daito-ryu Aiki Budo, perguruan utama yang dipimpin almarhum Takeda Tokimune;

Takeda Tokimune

Daito-ryu Aiki-jujutsu Kodo-kai, yang berlandaskan pengarahan Horikawa Kodo,

Horikawa Kodo & Okamoto Seigo

Daito-ryu Aiki-jujutsu Takuma-kai oleh almarhum Takuma Hisa;

Hisa Takuma

dan Daito-ryu Aiki-jujutsu Roppo-kai oleh Okamoto Seigo, murid utama dari Horikawa Kodo.

Pada tanggal 4 Oktober (1993), perayaan lima puluh tahun wafatnya Takeda Sokaku dirayakan dengan demonstrasi besar yang diadakan di Gedung Nippon Budo di Tokyo (lihat foto di bagian “Heard in the Dojo” di edisi ini). Disponsori oleh Dojo Shinbukan di Tokyo yang berada di bawah instruksi Soke Dairi Kondo Katsuyuki-sensei,

Kondo Katsuyuki, Soke Dairi (Headmaster) of Daito-ryu Aiki Budo

ajang ini diselenggarakan sebagai pertunjukan kesatuan oleh Daito-ryu dan perguruan utama, Kodo-kai, dan Takuma-kai, semuanya mempresentasikan demonstrasi di atas panggung yang sama, suatu acara jarang sekaligus unik yang pernah diadakan. Lebih lanjut, kemudian di ruang resepsi, Katsuyuki Kondo, Yusuke Inoue, dan Hakaru Mori, para pemimpin utama dari beberapa perguruan, secara publik mengumumkan kesepakatan mereka untuk mempertahankan hubungan baik yang saling menguntungkan dan bekerja sama untuk lebih menumbuhkembangkan Daito-ryu Aiki-jujutsu di masa depan.

Omoto-kyo

Deguchi Onisaburo

Sekte Omoto dapat dikatakan sebagai salah satu “agama baru” (shinko shukyo) yang sukses di Jepang. Dengan lebih dari dua juta pengikut di saat penghapusan brutalnya di tahun 1935 oleh pemerintah militer Jepang. Didirikan oleh seorang wanita dari buta huruf dari kalangan biasa, kesuksesan perkembangan Omoto-kyo dan formulasi doktrinnya merupakan jasa dari pemimpin karismatik Deguchi Onisaburo.

Perkenalan Ueshiba dengan agama ini terjadi secara tidak sengaja pada bulan Desember di tahun 1919 ketika ia hendak pulang ke Tanabe dari Hokkaido untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit keras. Ia berputar menuju Ayabe untuk beberapa hari demi memanjatkan doa bagi kesembuhan ayahnya, dan di saat itu juga ia berjumpa dan terkesan dengan Deguchi Onisaburo. Setelah kematian ayahnya di musim semi tahun 1920, Ueshiba pindah ke Ayabe beserta keluarganya walaupun mendapat tentangan dari keluarga besarnya. Deguchi menempatkan Ueshiba di bawah sayapnya ketika ia menyadari keahlian bela dirinya dan memberi dukungan untuk mengajar anggota sekte yang tertarik. Ini kemudian melahirkan pendirian “Ueshiba-juku” (Perguruan pribadi/Klub) dimana Ueshiba melanjutkan latihan pribadinya sementara mengajar dalam lingkup kecil. Di tahun 1922, Takeda Sokaku menghabiskan waktu lima bulan untuk mengajar para pengikut Omoto-kyo di rumah milik Ueshiba. Kedua figur penting yang berpengaruh dalam perkembangan pribadi Ueshiba, Takeda dan Deguchi, disesalkan, namun diakui berada dalam saling ketidaksukaan yang intens dan ini tentunya menjadi penyebab dari rasa tertekan Ueshiba.

Ueshiba kemudian turut serta dalam petualangan bersama Deguchi Onisaburo ketika ia menyertai gurunya ke Mongolia di tahun 1924 sebagai pengawal. Kelompok kecil oorang Jepang ini terlibat dalam cekcok politik lokal dan berhasil lolos dengan bertaruh nyawa. Pengalaman ini lebih jauh memperkuat hubungan antara Deguchi Onisaburo dan Ueshiba dalam mengarungi rimba kematian yang kemudian mengantarkannya ke kesadaran spiritual bagi sang pencetus Aikido.

Hubungan dekat antara Ueshiba dan Omoto-kyo berlanjut seiring kepindahannya ke Tokyo di tahun 1927 hingga 1935. Deguchi bahkan turut menjadi pemegang andil dalam pendirian Budo Senyokai, organisasi nasional yang ditujukan untuk pengembangan Aiki-jujutsu Ueshiba yang berafiliasi dengan Omoto-kyo. Ueshiba mengalami pengasingan dari hubungannya dengan Omoto-kyo, setelah terjadinya insiden Omoto-kyo kedua yang memberikan status ilegal terhadap sekte tersebut, namun keyakinannya terhadap Deguchi tetap bertahan. Setelah Perang Dunia II, Ueshiba melanjutkan hubungannya dengan sekte Omoto dan secara berkala mengunjungi pusat sekte tersebut di Kameoka dan Ayabe.

Meninjau kembali ke belakang, adalah doktrin dari Deguchi yang diterima Ueshiba secara pribadi dan melalui ketekunannya membaca Reikai Monogatari (Kisah tentang Dunia Jiwa) oleh Deguchi yang melandasi visi humanisnya yaang terkandung dalam Aikido. Keunikan Aikido diantara seni bela diri Jepang modern adalah hal yang sangat jelas dalam penekanan etika dan kontribusi signifikan Omoto-kyo harus untuk diketahui.

Momentum kesuksesan Omoto-kyo luruh oleh Insiden Omoto Kedua, agama ini kembali dibangkitkan setelah perang oleh Deguchi dengan nama Aizenen. Istrinya, Deguchi Sumiko memegang tampuk kepemimpinan setelah kematian Deguchi di tahun 1948, dilanjutkan oleh putrinya Deguchi Naohi yang merubah nama agama tersebut menjadi Omoto-kyo kembali. Di tahun 1960-an, Omoto-kyo mencatat jumlah pengikut mereka yang berjumlah sekitar 200.000 di seluruh Jepang.

Di masa sekarang, sama seperti takdir semua organisasi besar lainnya, beberapa kelompok kemudian memisahkan diri dari organisasi utama untuk mengejar jalan mereka masing-masing. Salah satunya bernama Aizenen, yang dipimpin oleh cucu dari Deguchi Onisaburo, yaitu Deguchi Yasuaki, yang menekankan pada studi Reikai Monogatari. Aiki News telah bertemu dengan Deguchi Yasuaki yang berbagi banyak cerita mengenai kakeknya dan sejarah sekte dari sudut pandang orang pertama. Kami segera akan mendedikasikan sebagian dari kemapuan kami untuk mendokumentasikan sejarah dan kegiatan awal dari sekte Omoto, terutama yang berhubungan dengan prinsip-prinsip spiritual yang terkandung dalam Aikido.

Bayang-bayang kesuksesan Aikido di masa kini menutupi Daito-ryu dan Omoto-kyo, keduanya relatif tetap merupakan fenomena asing di masa Jepang modern. Namun tidak terpungkiri, sebagai praktisi dari seni bela diri Ueshiba Morihei dan pengikut dari prinsip etikanya, kita terikat secara moral untuk mengenali para pendahulu, dan dengan begitu kita dapat sedemikian rupa, sekecil apapun, membantu Aikido memberikan penghargaan yang layak kepada sumber-sumber ini.

Keterangan:

Sumber artikel :

http://www.aikidojournal.com/article?articleID=572&highlight=daito-ryu+and+omoto

Merupakan artikel oleh Stanley Pranin. Diterjemahkan ulang ke dalam bahasa Indonesia oleh Imam Raharja dan dimuat kembali atas izin dari penulis, dan juga merupakan artikel yang dimuat dalam majalah Aiki News No. 94, pada tahun 1984


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: