Imbang

Didasari keprihatinan karena tidak banyak dojo yang berusaha menjaga dan meningkatkan standar kualitas latihan, sekitar dua minggu lalu, di hadapan para kohai saya melontarkan satu anjuran, yang pada intinya adalah untuk membimbing mereka kembali pada misi Aikido yang ditanamkan oleh O-sensei, yaitu “belajar untuk turut membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik”

Jika ingatan saya tidak salah, misi ini disampaikan secara lisan oleh O-sensei kepada salah satu murid seniornya, mendiang Saito Morihiro-shihan (9th dan Aikikai), ketika pertama kali ia hendak bergabung berlatih di dojo Iwama, petuah ini kemudian dipegang teguh oleh mendiang Saito-shihan hingga akhir hayatnya. Keteguhan ini terlihat dengan jelas dalam salah satu artikel pengalaman pribadi Stanley Pranin (5th dan Aikikai), yang masih mengingat jelas bagaimana Saito-shihan sangat menekankan etika kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun luar dojo. Hal yang sama pun saya sampaikan kepada para kohai beberapa waktu lalu, selain pesan untuk selalu mau belajar lebih baik lagi, hal ini juga saya sampaikan sebagai pengingat bagi mereka yang hendak menempuh ujian kyu untuk tidak berlatih Aikido demi mengejar prestise sabuk semata.

Saya melihat sendiri ada banyak sekali praktisi yang berlatih Aikido dengan motivasi yang salah, motivasi-motivasi inilah yang kemudian membawa si praktisi kemudian berkutat dalam metode latihan kontra-produktif. Sebelumnya, saya harus menegaskan bahwa saya tidak merasa bahwa latihan yang saya lakukan bersama para kohai di dojo kami adalah yang paling benar, tapi setidaknya kami berusaha untuk meningkatkan kualitas latihan dan selalu berpegang teguh pada misi yang ditanamkan oleh O-sensei: “belajar untuk turut membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik”

O-sensei adalah seseorang yang visioner. Ketika ia memangkas kurikulum Daito-ryu Aiki-jutsu, memasukkan beberapa pengetahuan dari ilmu lain yang ia pelajari, serta memasukkan beberapa paham spiritual yang universal dari Omoto-kyo, ia menyadari bahwa Aikido akan berkembang sebagai “gendai budo”, budo modern, yang tidak lagi menitikberatkan para praktikalitas teknik, melainkan sebagai ilmu pendukung dalam hidup bersosialisi, mungkin ini adalah satu konsep yang dirasa abstrak, maka untuk bisa memahami bagaimana “gendai budo” berperan membangun masyarakat, kita perlu sedikit menilik kembali istilah ini secara etimologi.

“Gendai” jika diterjemahkan secara harafiah berarti “modern”, sedangkan “budo” memiliki makna yang lebih dalam dan termasuk sulit untuk saya jelaskan, namun secara dangkal “budo” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti “martial way”, atau bisa kita artikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “jalan kemiliteran”, dimana istilah “martial” berasal dari “Mars” nama dewa perang Yunani. Dari jabaran ini kita dapat menyimpulkan makna “gendai budo” secara langsung adalah “jalan kemiliteran modern”, jika kita tidak mau menggunakan istilah yang sedikit lebih kejam lagi yaitu “jalan perang modern”.

Latar belakang
Salah satu artikel yang ditulis oleh salah satu teman praktisi sendiri pernah menegaskan untuk membedakan antara “combat sport”, “self-defense art”, “fighting art” dan “martial art”. Saya akan sedikit membahas perbedaan antara keempatnya sebelum kita masuk ke pembahasan mengenai misi O-sensei serta latihan Aikido yang secara subjektif saya anggap ideal:

1. Combat sport: adalah ilmu yang pada awalnya merupakan ilmu pertarungan, yang kemudian memasukkan aspek tarung dalam ring,
pembagian kelas dan skor, dengan tujuan agar pertarungan berjalan imbang dan adil. Combat sport di zaman dahulu tidak mengenal hadiah, terkecuali sayembara yang biasanya diadakan oleh kaum elit. Combat sport kuno biasanya merupakan ajang unjuk kebolehan atau ajang pembuktian siapa atau ilmu mana yang lebih unggul dari dua yang diadu di dalam ring, hadiahnya adalah prestise, atau bahkan mungkin sekedar kesempatan untuk hidup lebih lama jika pertarungan tersebut disyaratkan sebagai pertarungan hidup-dan mati. Di dunia modern, hampir semua seni tarung menekankan kepada combat sport.

2. Self-defense art: seni mempertahankan diri, baik yang dikenal secara kuno atau modern, keduanya berkonsep “pacifier”, yaitu tidak menyerang terlebih dahulu, hanya bereaksi jika ada ancaman, mengenal psikologi dan strategi pertarungan, dan secara teknis bisa dibilang lebih menekankan ke teknik “disarming” dan “immobilization”. Miskonsepsi dalam latihan membuat Aikido masuk ke dalam kategori ini, juga nyaris seluruh ilmu tarung yang eksis di dunia, disebabkan oleh konsep bahasa yang salah. Bagaimana bisa sebuah ilmu seperti Karate atau Taekwondo yang merupakan “fighting art” dan sekaligus “combat sport” jatuh dalam kategori “self-defense”? Padahal keduanya jelas-jelas secara teknis bersifat agresif dan ofensif.

3. Fighting art: hampir semua ilmu yang kita sebut “seni beladiri” sebenarnya adalah “fighting art” atau seni pertarungan. Karate, Silat, Muay-Thai, Taekwondo, Kenpo, Jujutsu, dll, semua seni ini telah menerapkan konsep “combat sport” dalam latihannya, sehingga kemudian kita juga mengenal strategi pengumpulan dan mempertahankan poin dalam pertarungan kompetisi. Ciri khas dari fighting art adalah pertarungan satu-lawan-satu, walaupun tergantung dari kemampuan sang guru atau kurikulum asalnya, bisa saja sebagian dari seni-seni tarung ini juga mengenal pertarungan dengan banyak lawan.

4. Martial art: martial art secara garis besar mempelajari self-defense sekaligus fighting art, dan biasanya memiliki cakupan ilmu yang sangat luas, mulai dari pertarungan tangan kosong, penggunaan senjata, environment assesment, psikologi, taktik dan strategi, hingga penggemblengan mental. Hampir seluruh martial art yang sesungguhnya, sepengetahuan saya, tidak mengenal penerapan combat sport, terkecuali pertarungan yang dilakukan untuk tujuan evaluasi para praktisinya secara pribadi.

Martial
Aikido sebenarnya masuk dalam kategori “martial art” atau dalam “martial way”, dalam bahasa Jepang disebut “Budo”, ini tentunya harus dibedakan dengan “Bujutsu”. Bujutsu berbeda dengan budo karena kurikulum teknisnya secara tegas melatih keterampilan dalam bidang militer, maka hampir seluruh aspek yang dikenal dalam perang militer kuno di Jepang terus dipertahankan dalam praktek latihannya. Sedangkan budo disusun mengikuti perkembangan zaman dengan tujuan filosofis menyempurnakan individu secara fisik dan mental, walaupun studinya yang berkaitan dengan kemiliteran turut menyumbangkan sebagian dari keterampilan militeristik, yang apabila dilatih dengan benar tentunya dapat dipraktekkan ketika praktisi terpaksa harus berhadapan dengan kekerasan.

Bertolak dari penjabaran diatas, maka seharusnya Aikido tetap dilatih dengan mempertahankan nilai-nilai militeristik, tentunya juga dengan mempertimbangkan beberapa paham spiritual-universal yang ditanamkan O-sensei secara langsung dalam sesi latihan. Banyak praktisi yang mengetahui praktek spiritual Omoto-kyo yang dianut O-sensei, kemudian menolak untuk tetap mempertahankan aspek ini dalam latihan, padahal dalam prakteknya, O-sensei hanya menerapkan nilai-nilai yang dapat diterapkan secara universal sehingga tidak bertentangan dengan praktek religius agama mana pun, semata hanya dikarenakan salah kaprah
penggunaan kata “spiritual” dan “rohani”, dimana sebagian besar orang menganggap bahwa spiritualitas dan religiusitas adalah satu topik yang sama, lebih buruk lagi, “spiritual” terkadang disamakan dengan istilah “mistis”.

Imbang
Latihan bagi O-sensei adalah jalan penyempurnaan diri, maka semua aspek pun ditempa dalam proses latihan, baik itu fisik, mental dan etika. Namun seiring perkembangan zaman, nilai-nilai ini banyak bergeser, kaum muda lebih banyak menaruh minat pada Aikido semata karena Steven Seagal itu keren, ingin menjadi jagoan berkelahi, atau bahkan ingin bergaya bak seorang samurai dengan memakai hakama. Memandang Aikido hanya dari kulitnya ini pun membawa dampak negatif dalam perkembangan latihan
, praktisi hanya mengenal Aikido karena tekniknya yang lembut namun tidak efektif sebagai teknik perang, sebaliknya ada yang mempraktekkan teknik secara keras dan keji dikarenakan pandangannya akan Aikido sebagai teknik perang dan melupakan prinsip “katsu-jin-ken” (pedang pemberi kehidupan) yang sangat ditekankan oleh O-sensei.

Aikido berakar dari seni perang, walaupun demikian, Aikido tidak secara gamblang melatih teknik-teknik tersebut. Di dojo, instruktur hanya menyampaikan wujud teknik secara prinsip, penyampaian ini adalah satu konsep kontemplasi yang dituangkan dalam seni gerak, tidak jauh berbeda dengan seni tari, namun penerapan kontemplasi yang kebablasan juga akan membawa latihan semakin menjauh dari akarnya, yaitu seni perang, yang kemudian menyebabkan latihan tidak lebih dari pertunjukan drama tari.

Nilai spiritual serta etika dalam latihan mutlak harus dipertahankan, walaupun demikian, bukan berarti aspek fisik harus ditanggalkan. Seni perang sebagai akar dari Aikido harus tetap dipertimbangkan, fisik tetap harus ditempa, namun bukan dengan tujuan membentuk manusia yang mengandalkan kemampuan fisik semata. Di masa modern, ilmu seperti Aikido berfungsi untuk menjaga kesehatan fisik sekaligus status mental, inilah yang kemudian menyebabkan mengapa praktek etika juga menjadi tolok ukur senioritas dalam Aikido, sehebat apa pun seorang senior atau seorang “sensei”, ia tidak akan dihormati jika tidak mempraktekkan nilai-nilai etika budo, sehingga pada akhirnya, aspek inilah yang menjadi poin penting untuk membangun manusia yang berjiwa maju dan lebih baik dalam bermasyarakat.

Maka melalui tulisan ini juga saya berusaha mengingatkan teman-teman praktisi, baik seorang Aikido-ka maupun praktisi disiplin lainnya, bahwa adalah tuntutan masyarakat di zaman modern untuk tetap memegang dua aspek dalam latihan, yaitu aspek fisik dan aspek mental. Dan bagi Aikido serta beberapa disiplin kuno lainnya biasanya aspek spiritual juga diperhitungkan, jika disiplin tersebut tidak secara turun-temurun sudah terlebih dahulu didasari oleh religiusitas. Jika latihan hanya dijalankan dengan satu aspek saja, maka proses serta hasilnya akan menjadi timpang, ketimpangan inilah yang sebenarnya menjadi penyebab mengapa sebagian besar Aikido-ka merasakan proses belajar mereka “mentok” di tengah jalan. Latihan yang benar seharusnya tetap bercermin pada apa yang dilakukan O-sensei, banyak praktisi yang tidak mengetahui bahwa demo-demo yang
dilakukan O-sensei hanyalah cara untuk menyamarkan aspek teknis yang biasa ia latih di dojo pribadinya di Iwama di masa lalu. Sebagian besar praktisi hanya mengenal O-sensei dari teknik-teknik “magic” yang didokumentasikan dalam video. Sangat sedikit yang pernah melihat O-sensei melakukan teknik dengan detail mekanis di masa tuanya, walaupun sebenarnya latihan-latihan teknis ini terdokumentasikan dalam foto-foto lama yang ada dalam buku “Budo” karya O-sensei, dan kemudian diteruskan oleh mendiang Saito Morihiro-shihan hingga penerusnya sekarang Saito Hitohiro.

Sebagai kesimpulan, meminjam kata-kata dari seorang senpai, praktisi Aikido dapat diandaikan seperti seekor burung, yang sejatinya memiliki dua sayap, sayap tersebut adalah aspek fisik dan mental. Tentunya jika seekor burung hanya memiliki satu sayap, maka kemampuannya untuk terbang akan dipertanyakan. Dari sini saya hendak menambahkan satu bagian lagi, yaitu ekor, yang secara gamblang merupakan pengendali arah terbang, sekiranya saya bisa mengandaikan ekor ini sebagai spiritualitas yang tidak lain adalah etika dan semangat dalam latihan, karena sekedar terbang bukanlah tujuan, tujuannya adalah dimana kita nantinya akan mendarat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: