Makna dan Tujuan Latihan

Dalam bahasa Jepang, “latihan” sering disebut dengan dua istilah yaitu “renshuu” dan “keiko”, adapun hampir seluruh praktek seni perang (martial art) yang berasal dari Jepang mengadopsi istilah “keiko” dalam mengistilahkan latihan. Walaupun sama-sama bermakna “latihan”, namun “renshuu” dan “keiko” memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Dinilai dari penggunaan katanya, “renshuu” dapat dipadankan dengan istilah bahasa Inggris “practice/training”, dan pada dasarnya “practice/training” adalah latihan “membiasakan diri” dengan suatu kegiatan atau gerakan. Menilik pada praktek penggunaan katanya, “renshuu” banyak digunakan dalam latihan-latihan mendasar untuk membiasakan seseorang dengan kegiatan yang dijalaninya, kata “renshuu” digunakan dalam studi di sekolah, di buku-buku pelajaran akademik, umum ditemukan kata “renshuu” yang secara harafiah dapat kita artikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “soal latihan”. Kata “renshuu” juga umum digunakan dalam bidang olahraga sport, disebutkan bahwa dalam latihan olahraga baseball, isitilah yang digunakan adalah “renshuu”.

Sedangkan istilah “keiko” digunakan untuk menyebut istilah “latihan” dengan makna yang lebih dalam. Kebanyakan seni perang (martial art) yang berasal dari Jepang menggunakan istilah “keiko”, dan bukan “renshuu”. Menilik dari segi etimologi, istilah “keiko” diartikan secara harafiah “studying the old path”, yang lebih dalam lagi dapat diartikan yaitu berusaha mempelajari bagaimana ilmu tersebut dipraktekkan pada awalnya. Sebagai contoh, jika kita melihat Aikido, jarang sekali kita melihat penulisan istilah “self-defense art” di sumber-sumber tertulis yang berasal dari luar negeri, pun di negeri asalnya, Aikido dikenal sebagai “martial way” atau “budo”. Berkaitan dengan “keiko” hampir seluruh seni perang (martial art) yang berasal dari Jepang menggunakan istilah “keiko” untuk merujuk pada kegiatan berlatih.

Ada nilai yang lebih jika kita menyebut istilah “keiko”, “budo” mengenal suatu proses yang cukup dekat karakternya dengan “renshuu” yaitu “tanren”, adapun “tanren” yang dipraktekkan dalam “budo” (martial art/way) agak berbeda dengan “tanren” yang dilakukan dalam “bujutsu” (martial system/techniques). Dalam “budo”, yang dipraktekkan adalah “seishin tanren” (menempa jiwa), Aikido, Judo, Iaido, Kyudo, bahkan seni-seni seperti Ikebana (seni merangkai bunga) dan Chado (the way of tea) semuanya mempraktekkan yang disebut dengan “seishin tanren”. Tujuan dari “tanren” yang spesifik ini adalah menempa sesuatu yang internal, kepekaan rasa, keuletan, kegigihan, ketelitian, kesabaran, dan ketenangan.

Bidang-bidang lain mungkin mengenal “tanren” hanya saja lebih bersifat fisik, contohnya, seorang atlit atletik lompat jauh yang berlatih setiap hari, “tanren” yang ia lakukan hanyalah sebatas praktek untuk membiasakan diri dengan aktivitas yang menjadi tuntutan profesinya, namun ketika ia mengolah ilmunya itu mencapai hasil yang lebih baik lagi, ketika ia berpikir bagaimana agar ia dapat melompat lebih jauh, seberapa cepat ia harus berlari, posturnya, momen dan timing-nya, hal-hal yang berupa penilitian ini pun memasukkannya ke dalam proses “keiko”.

Dalam Aikido dikenal istilah “the spirit of keiko” yaitu suatu sikap dimana kita menjaga kemurnian proses berlatih. Berbeda dengan seni bela diri (self-defense art), seni perang (martial art) tidak mengenal ego atau menang-kalah dalam latihan. Salah kaprah yang sering dipeluk erat-erat oleh sebagian besar praktisi adalah menjalani “renshuu” dalam latihan Aikido, bukan “keiko”. Ketika seorang praktisi melakukan “keiko”, maka ia berfokus pada bagaimana tehnik-tehnik terlahir, bagaimana detail-detail tertentu harus dijaga, makna apa yang terkandung dalam gerakan-gerakan tehnik, sikap dan pola piker apa yang seharusnya dimiliki. Ketika seorang Aikido-ka masuk ke dalam tahapan “renshuu” maka ia seharusnya mengkondisikan diri untuk masuk ke tahap “seishin tanren” (spiritual forging) yang bertujuan memoles keteguhan prinsip atau jiwa yang tidak tergoyahkan.

Dalam Aikido, “seishin tanren” dijalankan dengan berulang-ulang melakukan tehnik secara kontinyu dan bergantian antara uke dan nage, yang umumnya kita kenal dengan proses menghafal gerakan semata. Tapi sesungguhnya dengan menjaga mentalitas yang tepat, yang terjadi bukanlah menghafalkan gerakan semata, namun dengan fokus yang baik, maka proses “seishin tanren” secara tidak langsung membentuk tehnik serta postur yang tidak tergoyahkan, kendali penuh atas tubuh, dan kendali penuh atas rekan berlatih, dan mentalitas ini kemudian melahirkan pikiran yang bersih, tenang dan damai. Dengan demikian, secara langsung, nilai-nilai “keiko” pun sudah terkandung dalam “seishin tanren” hanya dengan menjaga kemurnian dalam berlatih, dan kemudian tujuan dari Aiki pun mengarah kepada tujuan yang sebenarnya “menciptakan manusia dengan mentalitas dan pribadi yang harmonis dengan sekitarnya”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: