Menyempurnakan Diri

Pengalaman ini saya dapat beberapa tahun lalu, ketika saya mendapat kesulitan dalam berlatih. Setelah hampir satu dekade berlatih, saya mendapati diri saya terhalang oleh dinding yang tinggi, disaat itu saya sedang mempersiapkan diri untuk menempuh ujian shodan. Hingga akhirnya saya mendapat kesempatan untuk bertanya kepada salah satu instruktur yang cukup senior mengenai masalah saya saat itu, yaitu kecenderungan hilangnya koneksi disaat eksekusi teknik. Yang mengejutkan adalah, beliau secara spesifik menerangkan bahwa saya harus terlebih dahulu memperbaiki fokus dan postur pada saat kamae, jikalau saja waktu itu ego lebih besar daripada kebingungan yang tengah saya hadapi, sudah pasti saya akan tersinggung mendengarnya. Syukurlah rasa keingintahuan saya jauh lebih besar sehingga saya memperoleh manfaat dari saran yang diberikan, yang notabene bagi seorang praktisi yang bisa dibilang cukup lama menekuni Aikido, saran tersebut berarti kembali ke hal yang sangat dasar, dan menerima bahwa saya sudah menjadi bodoh kembali.

Memulai segala sesuatunya dari nol memberikan pencerahan tersendiri bagi saya, disaat saya menyandang sabuk coklat pada saat itu, saya berlatih seperti layaknya seorang pemula, melatih teknik dengan kasar dan mendorong fisik ke ujung batas. Pegal-linu serta cedera-cedera kecil kembali saya rasakan seperti disaat tahun-tahun awal saya belajar. Dengan mengulang kembali pengalaman tersebut satu persatu, sesungguhnya banyak hasil yang bisa didapat, kita bisa kembali merunut detail-detail dalam proses latihan yang terlewatkan, satu persatu konflik ditelaah kembali dan kebuntuan bisa dipecahkan, bahkan tidak menutup kemungkinan kita menemukan masalah yang tadinya tidak kita sadari dan kemudian bisa ditemukan pemecahannya.

Menempatkan diri sebagai satu wadah yang kosong memang tidaklah mudah, ada beban ego yang besar disana. Dalam dunia psikologi memang dikenal pemahaman bahwa ego adalah satu-satunya yang membedakan manusia satu sama lain, namun dalam dunia spiritualitas, justru “ego yang menjadi identitas” ini yang kemudian memisahkan satu-persatu individu manusia dengan individu lainnya dan alam semesta, dan ketika hanya ego yang dipegang teguh, maka manusia terpisah dari segala kesatuannya dengan hukum alam semesta. O-sensei berkata bahwa Aikido sesungguhnya adalah pemahaman tentang hukum alam, sehingga ketika terlalu banyak ego ikut campur dalam latihan, tujuannya tidak akan tercapai.

Mengikis ego dalam diri adalah proses meluluh-lantakkan jiwa, saya mengandaikannya dengan membayangkan jiwa saya seperti patung batu yang kokoh dan dipahat dengan indah, yang kemudian dihancurkan hingga menjadi butiran-butiran pasir halus, yang kemudian harus diaduk dan direkatkan kembali, yang kemudian harus kembali diadu dengan pahat untuk mendapatkan bentuk yang seharusnya. Dalam dunia ilmu beladiri Jepang, ini dikenal dengan “shoshin”, jiwa seorang pemula, yang selalu ingin tahu, tidak pernah berhenti belajar, dan tidak sekalipun menganggap dirinya lebih pandai dibanding yang lain.

Sekarang, disaat saya bertanggung jawab atas satu dojo, sangat sulit untuk bisa kembali mendapatkan pengalaman sebagai seorang pemula, tapi bukan berarti hal ini menghentikan saya mencari hal-hal yang bisa membuat saya “menjadi bodoh kembali”. Seiring waktu saya mendapatkan kesempatan bertemu dengan banyak praktisi dari aliran beladiri lain. Satu hal yang saya pelajari adalah, sangat sulit bagi kita, sebagai seorang praktisi yang cukup senior di bidangnya, untuk bersikap sebagai seorang pemula secara total, tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Saya bersyukur bahwa salah satu junior saya adalah praktisi senior di aliran beladiri lain, saya memanfaatkan ini untuk kembali mengosongkan wadah dan balik menempatkan diri sebagai juniornya yang tidak tahu apa-apa, satu keuntungan lebih mungkin karena beladiri kami banyak menggunakan istilah yang sama sehingga ada banyak kemudahan pemahaman disana.

Berbagi cerita dengan para kohai, banyak menimbulkan rasa prihatin. Ada banyak dojo tidak menanamkan “shoshin”, satu-persatu seiring waktu dan seiring sabuk, seringkali kesombongan dipupuk dengan suburnya, rasa cepat puas diri kemudian lambat laun menurunkan kualitas latihan, dan lebih banyak kritik dilontarkan kepada orang lain dibandingkan ke diri sendiri. Saya sering berbagi cerita mengenai tahun-tahun awal saya berlatih, tidak sedikit pun saya dan teman-teman saat itu merasa ingin cepat bisa atau cepat naik tingkat, latihan selalu diisi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar, dan keinginan untuk meningkatkan kemampuan, bagi kami saat itu, sabuk hanyalah sekedar hiasan yang menambah kemeriahan do-gi yang berwarna putih polos, nilai dari ujian kenaikan tingkat saat itu adalah ketika sensei menyatakan bahwa kami harus ujian dan dalam perintah tersebut kami merasakan beban tanggung jawab yang berat, sehingga adalah hal yang lumrah pada saat itu kalau kami dengan rendah hati menolak menjalankan perintah untuk ujian karena merasa belum pantas.

Satu-persatu cerita saya dengar, tentang si anu yang kesal karena rekannya kasar, tentang si itu yang merasa dongkol karena ia berhasil dijatuhkan oleh rekan latihannya, tentang si dia yang bangga karena berhasil menjatuhkan rekan latihan dari dojo lain, kritik kepada sensei anu karena tekniknya aneh, si itu yang protes disaat ujian karena rekannya ogah-ogahan, dan lain-lain. Saya menanamkan pada kohai-kohai saya untuk belajar menjauhi hal-hal ini:

– Mengkritik instruktur/senior lain disaat mereka mengajarkan sesuatu yang berbeda. Anda datang ke dojo lain untuk memperoleh pengalaman yang berbeda, adalah hal yang absurd ketika anda protes disaat pengalaman itu berbeda dari dojo sendiri.

– Merasa bangga atas sabuk yang disandang. Sesungguhnya disaat seorang sensei memerintahkan anda untuk ujian, itu berarti ia bermaksud menambahkan tanggung jawab diatas pundak anda, bahwa itu artinya ada segudang teknik lagi mengantri untuk anda pelajari, plus ada sekian kohai di bawah anda yang harus anda ajari, dan ketika mereka melakukan kesalahan, anda bertanggung jawab atas mereka.

– Menjalani peran uke-nage dengan pola pikir korban-pelaku. Ketika kita semata berfokus untuk berhasil menjatuhkan rekan kita , maka yang ada disitu adalah konsep menang-kalah, dan kita menjauh dari tujuan latihan, yaitu untuk menyempurnakan teknik dan membentuk pribadi yang lebih baik.

– Meremehkan hal-hal sederhana. Tidak banyak praktisi yang mengerti manfaat rei, seiza, aiki-taiso, bahkan beberapa senior tidak bisa merinci pengetahuannya tentang ashi-sabaki yang murni mekanik, hingga yang tertular ke para kohai adalah bentuk teknik semata yang tidak dipahami detail, proses, serta tujuannya.

– Melupakan senioritas. Senioritas dalam beladiri Jepang tidak ditentukan oleh sabuk, tapi dengan melihat siapa yang lebih dahulu mulai berlatih, maka lazim di Aikido ada seorang senior yang menyandang sabuk putih dan juniornya justru sudah terlebih dahulu menyandang sabuk hitam. Ini ditujukan untuk melatih respek satu sama lain, sang senior sabuk putih akan respek kepada juniornya yang mungkin lebih tekun berlatih atau mendapat kepercayaan lebih dari senseinya, sedangkan sang junior sabuk hitam tetap menghormati sang senior sabuk putih atas lebih dulunya sang senior mempelajari bidang yang sama, dengan demikian, justru dengan memegang teguh senioritas, saling menghormati tetap terjaga.

– Kesombongan atau rasa cepat puas diri. Ketahuilah bahwa masih ada langit diatas langit, ketika anda berhasil mencapai tingkat tertentu, itu tidak akan pernah jadi akhir ataupun tujuannya, kesombongan hanya akan membuat proses belajar terhambat dan ilmu berhenti datang kepada kita.

Saya berkali-kali menekankan kepada murid-murid bahwa Aikido adalah ilmu yang bertujuan membentuk pribadi yang lebih baik, tidak adanya kompetisi dimaksudkan untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak sehat yang hampir selalu berujung pada kesombongan atau rasa rendah diri. Sebagai Budo modern, Aikido bertujuan untuk mengasah dan mendidik jiwa secara internal, mendorong kita untuk terus berusaha menyempurnakan diri sendiri dan bukan untuk bersaing menjadi lebih daripada yang lain, karena dengan selalu mengejar kesempurnaan diri, keunggulan tidak terelakkan, namun dengan tidak berhenti bersaing dengan orang lain, sangatlah mudah sebagai manusia untuk memupuk kesombongan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: