Gerakan Manusia; Bakat, Latihan Ilmu Beladiri dan Bio-Mekanika

Menurut saya adalah hal yang umum untuk berpikir bahwa: diantara orang-orang yang berlatih seni bela diri atau olahraga pertarungan (Saya rasa hal yang sama berlaku dalam semua jenis olahraga dan latihan gerak, seperti menari misalnya), ada dua kategori yang berbeda. Di satu sisi, kita melihat mereka yang bergerak dengan anggun, mereka yang “membuat segalanya terlihat mudah”, yang menangkap segalanya yang diajarkan kepada mereka dari saat per tama dan (lebih sering daripada tidak) mencapai tingkatan tinggi dalam olahraga atau seni yang mereka praktekkan. Di sisi lain, kita menjumpai mereka yang “terkoordinasi dengan buruk”, atau “memiliki dua kaki kiri”, mereka yang harus berjuang bertahun-tahun hanya untuk menguasai beberapa latihan dasar, atau berhenti begitu saja setelah periode latihan yang singkat, hanya karena mereka “tidak cukup berbakat”! Saya punya satu pertanyaan sederhana untuk anda berkaitan dengan hal ini: Kenapa? Mengapa ada dua jenis orang, berkaitan dengan gerakan? Saya tidak tahu bagaimana dengan anda sendiri, tapi fakta ini membingungkan saya sejak pertama kali saya mempelajari seni bela diri, ketika saya masih remaja. Dan hingga sekarang saya berlatih Russian Martial Art, saya belum menemukan jawaban yang pasti.

Selama bertahun-tahun saya mempelajari seni bela diri, saya melihat banyak “gejala” gerakan aneh yang sepertinya terlihat sulit dipahami. Contohnya, pertama kali saya mengajar sekelompok pemula San Shou (Kick Boxing Cina), saya menunjukkan pukulan “silang kanan”. Sejumlah siswa mampu melakukan tehnik dasar ini dengan segera, tapi beberapa yang lain yang walaupun mereka juga melihat gerakan ini dan menerima instruksi tentang bagaimana cara melakukannya, mereka melakukan hal yang sangat berbeda dari apa yang dicontohkan: ibu jari dari kaki belakang, yang menjadi tumpuan, mengarah ke sisi dalam, bukannya kearah pukulan meluncur, dan torso tidak berputar dengan penuh, sehingga untuk mencapai sasaran, mereka harus merunduk menyamping, berujung pada ketidakmampuan menghasilkan kekuatan pukulan. Beberapa tahun kemudian, saya berlatih dengan seorang petugas kepolisian yang berbobot 105 kilogram yang dapat melakukan “bench press” dan “squat” dengan beban seberat tubuh saya dalam banyak hitungan (dan ukuran tubuh saya tidak bisa dibilang kecil) tapi tidak dapat mengayunkan tongkat dengan kekuatan yang cukup untuk membuat saya bergeming. Saya juga bertemu dengan seorang pesaing dalam cabang taolu, Wushu, bertaraf internasional (atlet yang eksplosif sekaligus fleksibel) yang dapat melompat, berputar di udara dan mendarat dalam posisi “split” tapi tidak dapat melakukan tendangan memutar, dan saya juga mendengar tentang seseorang yang berlatih Kickboxing selama tiga tahun, cukup baik memukul dan menendang, tapi bahkan setelah tiga sesi latihan Systema Russian Martial Art, masih kesulitan melakukan rol depan sederhana.

Satu kesimpulan yang saya ambil dari momen pertama adalah, bahwa gejala ini tidak berhubungan dengan kekuatan, kecepatan atau fleksibilitas, faktor otot, yang dimana  sebagian besar orang yang saya sebutkan diatas adalah orang-orang yang mumpuni secara fisik dan memenuhi definisi umum dari “bugar”. Jadi, sementara mereka (sama seperti beberapa lainnya, saya yakin anda kenal dan pernah berlatih bersama-sama) sepertinya tidak memiliki masalah dengan ototnya, mereka ternyata memiliki masalah dalam melakukan beberapa gerakan spesifik, yang belum tentu rumit.

Karena pertanyaan saya (yang saya rasa mulai membuat anda bingung) berkaitan dengan gerakan manusia, mungkin membantu jika mendapat bantuan dari studi gerakan manusia melalui aplikasi prinsip mekanika, yang juga dikenal sebagai cabang ilmu bio-mekanika. Salah satu pionir dari bio-mekanika (dan yang pertama mencetuskan istilah ini) adalah seorang ahli fisiologi saraf (neurophysiology) Yahudi-Rusia, Nikolai A. Bernstein (1896 – 1966). Sekitar tahun 1940-an, Bernstein menulis buku berjudul “Ketangkasan dan Perkembangannya”, salah satu karya saintifik yang tetap menarik hingga sekarang, dimana ia mempresentasikan pemikiran-pemikiran utamanya mengenai perkembangan dan kontrol dari gerakan yang dilakukan dengan sengaja dan gagasan mengenai ketangkasan secara spesifik. Dalam bab kedua dari buku ini, ia menunjukkan permasalahan mendasar dari kendali motorik (contohnya dalam melakukan gerakan spesifik, sebagai kebalikan dari bergerak biasa), dimana tidak lain adalah, kebebasan berlebih dalam bergerak, kayanya kemampuan mobilitas anggota tubuh manusia.

Salah satu karakteristik dari tubuh manusia adalah persendiannya yang ekstrim: “…Apa yang kita miliki di kedua tangan dan kaki, serta peralatan yang terpasang di kepala (mata dan lidah) adalah variasi ratusan arah dan tipe mobilitas (tingkat kebebasan gerak). Jika kita menambahkan fleksibilitas serupa-ular di leher dan tengkuk kita, jumlahnya adalah tak terhingga” tulis Bernstein. Jadi, tidak seperti bagian-bagian mekanik mesin (contohnya, sebuah piston mesin) yang hanya memiliki satu tingkat kebebasan dan dipaksa bergerak dalam satu arah yang tetap, gerakan manusia dikarakteristikkan dengan arah yang tidak terbatas dan  cukup dinamis. Dalam bahasa sederhana, dapat dikatakan bahwa saya punya seorang teman, Bob, yang duduk di ruang keluarga dan ingin mengangkat cangkir kopi dari meja dan meminum isinya. Hanya saja, masalah dari gerakan spesifik yang ingin Bob lakukan ini adalah bahwa tubuhnya memiliki kemampuan untuk melakukannya dalam beberapa variasi. Tapi, jika ia tidak ingin bermandikan kopi, dan mengotori karpet saya, hanya beberapa variasi saja yang tepat, jadi ia harus menentukan pilihan, untuk mengendalikan gerakannya. Maka kita tiba pada definisi dari Bernstein mengenai koordinasi motorik, yaitu, “Koordinasi adalah menguasai tigkat kebebasan gerak yang berlebihan dari anggota tubuh, yang berarti, menggerakkan organ gerak dalam system yang terkendali”

Jadi kemudian, bagaimana kita dapat memperoleh kendali atas gerakan-gerakan kita? Sebenarnya, peran ini dilakukan oleh organ sensori di dalam tubuh. Menurut Bernstein: “Adalah umum dan biasa untuk berpikir bahwa gerakan secara sengaja bertanggung jawab secara penuh terhadap sistem motorik tubuh – otot, sebagai penggerak langsung; saraf motorik mentransfer impuls motorik dari otak dan saraf tulang belakang ke otot; dan pusat motorik otak sebagai sumber perintah untuk impuls motorik. Sebaliknya, sistem sensori tubuh tidak kurang sibuk dari sistem motorik selama eksekusi dari sebuah gerakan. Aliran sinyal yang terkoreksi, bekelanjutan dikirim ke otang spanjang saraf sensori dari keseluruhan proses, termasuk taktil, visual, otot-persendian, vestibular (dari telinga, menyampaikan sinyal tentang keseimbangan), dan lain-lain, menginformasikan kepada otak apakah gerakan telah dilakukan, apakah ia berlanjut sesuai rencana, dan apakah koreksi perlu dilakukan” Singkatnya, gerakan secara sengaja, menyertakan pertukaran informasi dua-arah antara otak, otot dan berbagai organ sensori. Supaya gerakan kita dapat terduga, kita membutuhkan aliran informasi yang konstan dari luar (persepsi dengan indera), untuk mempertahankan kendali yang berjalan dari fungsi otot kita dari dalam keluar. Para ahli kemudian merujuk pada, sistem sensori-motorik.

Baiklah, kembali ke pertanyaan awal, yaitu “mengapa sebagian orang memiliki begitu banyak masalah dalam mempelajari bagaimana melakukan gerakan-gerakan tertentu dalam ilmu beladiri? Mari kita lihat salah satu pendekatan teoritis yang banyak digunakan di masa sekarang untuk menjelaskan bagaimana orang-orang belajar dan mengendalikan kemampuan motorik. Dikenal sebagai perspektif sistem dinamis dan juga berdasarkan turunan dari hasil penelitian Bernstein (1967), oleh M. T. Turvey dan J. A. S Kelso. Menurut perspektif sistem dinamis “Saat pertama kali kita mempelajari suatu gerakan, kita cenderung membekukan tingkat kebebasan gerak yang membatasi koordinasi dan kendali. Kemudian, ketika gerakan dikuasai, kita melepaskan sebagian dari keterbatasan tersebut, kemudian memungkinkan gerakan tersebut dilakukan dengan lebih efisien dan akurat. Pada akhirnya, kita mengerti bagaimana mengeksploitasi tingkat kebebasan gerak, sebuah evolusi dalam pengembangan kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil dalam level tinggi di berbagai konteks”. Jadi, mungkinkah beberapa orang tersendat di tahap awal “pembekuan” tingkat kebebasan? Atau bahkan mungkin, sudah memiliki sejumlah tingkat kebebasan “pencairan” tertentu, sehingga sulit bagi mereka untuk mulai mempelajari kemapuan motorik baru?

Saya megingat sesuatu yang saya baca beberapa tahun lalu berjudul “Pain Free” oleh ahli fisiologi anatomi Pete Egoscue. “Otot yang yang tidak bergerak, akan dengan segera menjadi otot yang tidak dapat bergerak”, klaimnya, dan walaupun ini terdengar seperti menyatakan hal jelas (seperti “gunakan itu atau engkau akan kehilangannya”), ini mengandung kenyataan yang tidak terbantahkan. Atau mungkin lebih jelas jika ditulis “otot yang tidak bergerak, dengan segera menjadi otot yang lupa bagaimana cara bergerak”. Apakah mungkin bagi otot kita untuk lupa cara melakukan tugasnya? Menurut Thomas Hanna, penemu bidang Somatik, bahwa jelas, dalam istilah patologi dia menyebutnya Amnesia Sensori-Motorik (Sensory-Motor Amnesia/SMA), yang pada dasarnya berarti “kehilangan ingatan bagaimana rasa menggerakkan sejumlah otot dan bagaimana cara mengendalikannya

Istilah itu memang “keren”, tapi bagaimana hal ini terjadi dan apakah itu nyata? Selama hidup, tubuh kita bereaksi terhadap rangsangan sehari-hari (stress psikologis, ketegangan yang berulang, cederan dan trauma) dengan refleks otot. Jika reflex ini terus berulang, kontraksi responsif otot tersebut menjadi kebiasaan, yang berarti kita tidak bisa memerintahkannya untuk rileks, jadi setelah beberapa lama, kita sama sekali lupa akan rasa bagaimana membuat otot tertentu menjadi rileks. Sama seperti yang dikatakan Thomas Hanna”…umpan balik dari impuls motorik sensori berada di bawah tingkat kesadaran fungsi terkendali dari otak”. Sekarang, apakah anda pernah berhadapan dengan rekan latihan yang sangat kaku seperti balok kayu? Kalau anda bertanya kepadanya kenapa ia begitu tegang, ia mungkin akan menjawab bahwa ia sama sekali tidak tegang. Dan bahkan ketika anda sudah mengingatkannya untuk rileks, anda hanya akan menjadi sangat kesal hanya karena ia sudah tidak lagi ingat bagaimana untuk rileks, karena otak sudah tidak lagi bisa mengingatkan otot untuk rileks!

Tidak seluruh tot di tubuh seseorang dipengaruhi oleh SMA, tapi ingat, kita mebicarakan gerakan disini. Ada sekelompok otot yang harus bekerja secara sinergis agar tubuh dapat melakukan gerakan, seperti terhubung dengan rantai. Mudah jika kita memahami bahwa ketika satu sambungan menjadi lemah, anda sudah dapat menebak dampaknya. Mungkin sedikit melegakan bahwa SMA tidak mempengaruhi semua orang. Menurut hanna, “beberapa orang memiliki akumulasi awal dan kuat dan menunjukkan gejala ini lebih awal. Yang lain lebih beruntung dalam menghindari efek stres dan  trauma ini, dan mereka tetap fleksibel dan bugar pada usia 70 tahun seperti saat berusia 25 tahun”. Tapi, mungkinkah mereka yang beruntung, yang berhasil menghindari efek stress dan trauma di hidup mereka, adalah mereka yang unggul dalam ilmu beladiri, yang kita kenal sebagai “berbakat”? Dan mungkinkah bahwa mereka yang kurang beruntung adalah mereka yang kesulitan melakukan gerakan dasar, mereka yang tidak “berbakat”?

Hal lain yang perlu anda ketahui mengenai SMA adalah kita dapat menghindarinya, dan ini dapat disembuhkan, karena tubuh manusia mudah untuk deprogram ulang melalui metode-metode latihan tertentu. Contoh: teman saya Bob memutuskan untuk berlatih ilmu bela diri, jadi ia pergi ke sebuah perguruan tertentu untuk mulai belajar. Setelah pemanasan singkat, ia akan diperintahkan untuk melakukan gerakan tertentu, yang kita kenal sebagai tehnik, yang dapat ia lakukan secara efisien, atau sebaliknya, tergantung dari sejauh mana tingkat kebebasan yang ia miliki. Masalahnya Bob adalah salah satu dari mereka yang “tidak berbakat”, aka nada beberapa tehnik yang tidak akan pernah dapat ia lakukan dengan efisisien, walaupun ia mencobanya berulang kali (sebenarnya, pengulangan yang dilakukan dengan mekanika tubuh yang tidak efisien akan beresiko cedera serius) Bukankah lebih baik jika Bob terlebih dulu menelusur tingkat kebebasan geraknya terlebih dahulu untuk membiasakan diri dengan apa yang hilang semasa hidupnya, sehingga ia dapat melanjutkan mempelajari rangkaian gerakan-gerakan spesifik? Seseorang mungkin akan mengingatkan Bob untuk terlebih dahulu mencari metode latihan lain untuk memperbaiki kekurangan motoriknya. Ini mungkin tepat, tapi ingat, Bob tidak sadar akan kekurangannya saat itu dan instrukturnya pun juga, bahkan mungkin ia akan beranggapan bahwa Bob tidak berbakat, titik.

Pertama kali saya mempelajari Russian Martial Art, saya terkejut (mungkin dengan perasaan tidak senang) akan begitu banyaknya waktu dialokasikan untuk latihan yang berorientasi pada pertarungan, hingga saya mengerti bahwa ada bentuk-bentuk latihan terintegrasi yang dapat menunjukkan kemungkinan kesulitan motorik yang terintegrasi dalam metode latihan Systema. Sebelum melatih serangan, sergapan atau pelucutan pisau, praktisi berlatih apa yang disebut latihan bio-mekanika: ini adalah rangkaian latihan gerakan (termasuk pilin, putar, memelintir setiap persendian tubuh ke segala arah yang memungkinkan), atau “melantai” (berbagai cara berguling, salto, atau pola gerakan lain di lantai) untuk menelusuri tingkat kebebasan gerak tubuh, pertama tanpa resistensi, kemudian dengan resistensi yang dipengaruhi oleh gravitasi dan kerasnya lantai. Dengan latihan-latihan ini, setiap praktisi mengembangkan latihan gerakan yang tepat dan efisien, yang kemudian digunakan dalam aplikasi pertarungan.

Saya sudah mengalami keefektifan pendekatan Rusia pada latihan ilmu beladiri dalam meningkatkan kurva pembelajaran seseorang, dari pengalaman pribadi dan teman-teman dalam latihan, di kelompok latihan Athena, Yunani, dan di Gothenburg, Swedia. Tentu saja pengalaman saya belum bisa menggagas penemuan saintifik, namun saya percaya bahwa ada sejumlah besar orang-orang yang kualitas gerak dan tingkat pencapaiannya dapat terbantu oleh latihan bio-mekanika dari Russsian Martial Art.

Sumber artikel:

http://systemasweden.blogspot.com/2009/02/on-human-movement-talent-martial-arts_19.html

Diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia oleh Imam Raharja, atas izin dari penulis artikel, Mr. Spyro Katsigiannis (profil: http://www.blogger.com/profile/17668264882086939171), Russian Martial Art, Swedia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: