Kamae &/ Vs. Posisi Natural

Artikel ini ditulis atas rasa kagum yang timbul ketika membaca salah satu artikel di web yang ditulis oleh salah satu praktisi Yoshinkan Aikido, bahwa disaat ia pertama kali mulai, kamae adalah hal pertama yang diajarkan kepadanya. Ia juga menekankan kepada para sesama praktisi bahwa kamae adalah fondasi terpenting dalam latihan Aikido, ia juga menghimbau para praktisi tingkat mahir untuk tidak melupakan hal dasar yang satu ini. Suatu kebetulan yang mengejutkan adalah ketika saya menghadapi kebuntuan dalam latihan, berkali-kali petunjuk ini sudah diberikan, yang pertama oleh sensei saya sendiri.

“Kamae-mu harus dilebarkan lagi, kamu mungkin terbiasa dengan tehnik dengan lingkaran dan langkah-langkah kecil, tapi apa benar itu cara yang sesuai dengan badanmu?”

Tapi rupanya dalam kata-kata sederhana ini, pikiran saya belum mampu mengolah keseluruhan pesan yang berusaha disampaikan. Hingga akhirnya saya bertemu salah satu sensei yang lebih senior, dan bertanya.

“Saya punya masalah, saya seringkali tidak bisa mempertahankan koneksi antara saya dengan uke, apa yang harus saya lakukan?”

Ternyata menurutnya saya harus mulai dari nol, dari awal, dari hal yang paling sederhana, seturut dengan kata-kata sensei saya sebelumnya, yaitu kamae. Dan ternyata apa yang diberikan ke saya sangat mirip dengan kamae yang dilakukan oleh para praktisi Yoshinkan Aikido, hanya saja dengan posisi tangan yang lebih rendah.

Kamae standar Aikikai, begitu istilah yang diberikan kepada saya, merujuk pada shizentai no kamae yang pada umumnya dilakukan para instruktur Aikikai Honbu Dojo, dilakukan dengan posisi tubuh diagonal, te-gatana kira-kira sejajar dengan centrum, posisi kaki depan dengan ibujari mengarah ke depan, dan posisi telapak kaki belakang cenderung diagonal. Sebenarnya, dengan metode latihan yang lengkap dan tepat, kamae ini sudah cukup untuk membentuk fondasi seorang praktisi, namun kemudian prinsip ini umumnya menjadi timpang karena tidak lengkapnya metode pengajaran dan pemahaman, hingga kemudian beberapa instruktur lokal merasakan perlunya beberapa metode tambahan untuk menuju ke pembentukan fundamental yang satu ini.

Adapun, menurut bahan yang saya dapatkan dari salah satu yudansha yang cukup senior, full frontal kamae perlu untuk dijadikan tambahan pengetahuan bagi praktisi tingkat lanjut atau mahir, dan kemudian menjadi hal yang sangat penting bagi para pemula. Adapun saya menyebutnya full frontal kamae karena dalam posisi ini kita berdiri sedemikian rupa sehingga keseluruhan torso menghadap ke depan, condong ke depan kira-kira lima derajat, sehingga tubuh dapat merasakan intensi yang secara konstan terarah ke depan. Manfaat dari bentuk ini dapat langsung dirasakan, yang pertama adalah berkurangnya kecenderungan mundur atau menghindar, yang kedua terbentuknya kepekaan dalam merasakan garis centrum atau chushin secara penuh, sehingga kamae ini dengan mudah melatih praktisi untuk berlatih berdiri dengan lebih stabil namun tetap fleksibel.

Namun full frontal kamae ini menyebabkan beberapa masalah bagi saya, yaitu kebiasaan yang ditanamkan para instruktur kepada saya untuk selalu mengarahkan ibujari telapak kaki ke arah depan membuat selangkangan kanan saya terganjal, sehingga, alih-alih ketika dalam kamae ini para praktisi Yoshinkan dapat bergerak dengan luwes, saya justru mendapati seluruh badan saya terkunci, alias immobile pada saat berusaha memposisikan seluruh torso menghadap ke depan, dan tidak hanya itu, saya pun harus berusaha sekuat tenaga mengunci kaki agar posisi badan tidak limbung ke satu sisi.

Seumur hidup saya berlatih Aikido, tidak sekalipun saya menyukai kebiasaan mengarahkan ibujari kaki kanan pada saat migi-kamae sedikit mengarah keluar dari garis badan. Hingga pada suatu hari rasa penasaran mendorong si jempol untuk bergerak menyalahi apa yang telah ditanamkan kepada saya bertahun-tahun, ia bergerak mengarah keluar dari garis badan(lihat gbr diatas), dengan perbedaan yang sangat tipis, hanya sekitar lima derajat. Lalu, keajaiban terjadi, posisi torso yang sebelumnya miring kini dengan penuh menghadap ke depan! Sedikit demi sedikit saya memperoleh pengetahuan tentang tubuh saya sendiri, keseimbangan kembali saya dapatkan, dan ashi-sabaki pun menjadi lebih mudah untuk dilakukan, dengan satu tambahan lagi, saya menyadari garis centrum atau chushin, sehingga saya dapat bergerak dengan luwes tanpa banyak mempengaruhi torso.

Salah satu peneliti koryu-bujutsu di Jepang, Kono Yoshinori, pernah mengemukakan teorinya yang ia ajarkan kepada tim nasional bola basket Jepang. Sebelum melatih para atlit bola basket, ia mengamati bahwa mereka membutuhkan lebih banyak rapid-movement dan gerakan tidak terduga dalam pertandingan. Maka ia pun mengajarkan para atlit tersebut untuk bisa berlari dengan memberikan perubahan seminim mungkin pada tubuh bagian atas, ini membuat lawan lebih sulit membaca kemana arah mereka bergerak atau berlari, efisiensi tenaga pun menjadi salah satu hasil karena atlit tidak banyak melakukan gerakan-gerakan kosong dan mampu bergerak lebih cepat karenanya.

Apa yang diajarkan Kono sebenarnya tidak jauh berbeda dari apa yang dilakukan para samurai di zaman Jepang kuno, dimana kita sering menyaksikan bagaimana seorang ahli pedang dapat berpindah posisi tanpa banyak melakukan perubahan pada torso, sehingga mereka selalu berada dalam posisi siaga baik untuk bertahan maupun menyerang. Ini juga yang saya peroleh dari full frontal kamae, dalam posisi ini saya bebas menentukan arah saya bergerak tanpa harus kehilangan keseimbangan atau menimbulkan suki(celah) dalam pergerakan. Salah satu kohai dengan ibujari kaki yang sudah terlebih dahulu menyalahi kodrat, akhirnya datang kepada saya dengan satu masalah, yang sama.

Ibujari kaki saya yang di kemudian hari mengikuti jejaknya untuk menyalahi aturan, menjawab: both. Salah satu literatur yang membahas tentang Koryu, menyebutkan bahwa ada tiga jenis kuda-kuda yang dikenal dalam ilmu pedang kuno di Jepang, yaitu kamae(atau full frontal kamae), hanmi(atau half-posture, atau setengah badan), dan terakhir, shizentai(postur alami) atau ada juga yang menyebutnya mu gamae(empty stance). Ibujari kaki kami yang menyalahi aturan itu ada di urutan pertama kamae yang paling dasar, dimana postur tubuh dibentuk secara tegas dan tajam, yang kemudian menjelaskan mengapa keseluruhan torso menghadap ke depan adalah suatu keharusan. Hanmi dilakukan untuk tujuan intimidatif sekaligus defensif, intimidatif karena dalam posisi ini posisi pedang dapat menjangkau lebih jauh dan irimi(entering) dapat dilakukan lebih mudah, defensif karena posisi ini hanya mengizinkan separuh dari posisi badan yang potensial menjadi target jangkauan lawan, dalam posisi hanmi, posisi torso cenderung diagonal mengikuti posisi kaki, atau bahkan menyamping tergantung dari situasi dan kondisi pertarungan. Sedangkan yang terakhir, shizentai atau mu gamae, dilakukan dengan pertimbangan strategis, ada sebuah anekdot yang beredar di kalangan para samurai zaman Jepang kuno.

“Ketika kamu melihat lawan menghadapi tantanganmu dalam mu gamae, sarungkan pedang, tundukkan kepalamu(minta maaf) dan segeralah berlalu”

Shizentai atau mu gamae menawarkan lebih banyak opsi dalam hal strategi pertarungan, sebuah posisi yang benar-benar bebas, tidak mengekang tangan maupun kaki, sehingga seorang ahli pedang yang sudah terbiasa dengan tehniknya sendiri, dapat dikatakan mampu bergerak sesuka hati dengan usaha yang minimal, hasil yang maksimal dan sesuai dengan situasi dan kondisi pertarungan. Dengan perkenalan tiga jenis postur dasar ini, kohai saya mendapatkan jawaban, bahwa fundamental dilatih dengan kamae, selanjutnya adaptasi dan aplikasi dilatih dengan hanmi, sedangkan shizentai hanya milik mereka yang sudah ahli. Namun merujuk pada shizentai, banyak literatur dan petunjuk yang dibagikan oleh para peneliti maupun para shihan, bahwa postur apapun yang dilakukan semuanya harus berdasar pada postur tubuh yang alami dan sesuai(proper) dengan tiap-tiap individu, dengan kesimpulan bahwa walaupun terdapat banyak variasi dalam kuda-kuda atau postur dalam Aikido, semuanya berdasar pada satu prinsip postur yang natural.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: