Latihan, Tahap 2, Efisiensi Gerak

Dalam latihan Aikido, umumnya pemula akan dihadapkan pada satu masalah yang umum, yaitu sulitnya memerintahkan anggota-anggota badan untuk bergerak sesuai dengan keinginan sesuai juga dengan apa yang dicontohkan oleh para instruktur. Ketika masalah ini sudah dapat sedikit diatasi dengan mengenali karakter fisik masing-masing, masalah baru pun muncul, sesuai dengan konsep gerakan dalam tehnik Aikido yaitu “tenaga yang sesuai, hasil yang maksimal” maka umumnya praktisi kemudian dituntut untuk mengefisienkan gerakan, meminimalisir kerja otot namun tetap menghasilkan hasil maksimal yang akan diterima uke.

Kihon-waza berperan sangat penting sebagai patokan menuju efisiensi gerakan, karena sudah merupakan aturan mutlak bahwa gerakan-gerakan dalam tehnik dasar adalah gerakan-gerakan yang alami/natural, sehingga cukup dengan menyesuaikan gerakan-gerakan tersebut dengan karakteristik fisik masing-masing praktisi, langkah ini sudah cukup sebagai proses awal efisiensi gerak.

Dalam artikel sebelumnya, bahasan penulis lebih berfokus pada individu nage, walaupun efisiensi tenaga juga dilakukan oleh praktisi yang sama, namun dalam tehnik juga harus mempertimbangkan pihak eksternal yaitu uke. Semata-mata menyesuaikan tehnik dengan badan sendiri tidak akan mengantarkan kita ke hasil yang maksimal, hasil maksimal apakah yang dimaksud? Dalam kihon-waza, secara teknis, hasil yang dimaksud adalah keluaran tenaga yang minimal, ruang yang kecil, gerakan yang sederhana, uke aman, selamat tanpa cedera, tapi ia tetap berada di bawah dalam kendali penuh nage.

Dalam tandoku-dosa (solo practice/latihan individual), efisiensi gerak relatif mudah, karena kita hanya berfokus pada satu individu yaitu diri sendiri, ketika tahap pengenalan tubuh sendiri sudah dijalani, maka mengefisienkan gerakan cenderung mudah. Namun semua berubah ketika kita masuk dalam sotai-dosa (pair practice/latihan berpasangan), setelah bersusah payah mencari rumus mengefisienkan gerakan, semua dibuyarkan dengan beban berupa serangan dari individu lain, dalam hal ini kogeki (attacking methods/metode serangan) oleh uke.

Sebenarnya kogeki bukanlah beban, dalam aspek teknis, kogeki harus dipandang sebagai alat bantu. Menyesuaikan gerakan kita dengan karakteristik fisik orang lain adalah cerminan bagaimana Aikido mengajarkan kita untuk dapat bergaul dan memahami orang lain, melatih kita untuk mau menjalani proses mengenal orang lain dan dengan senang hati menerima semua tantangan-tantangan baru, hal yang juga kita hadapi ketika selalu berkenalan dengan orang-orang baru.

Berkaitan dengan efisiensi dan sotai-dosa, perbedaan yang harus ditekankan adalah penerapan tiga prinsip utama dalam Aikido, yaitu atari (point/moment of contact), musubi (knot, connection), dan awase (synchronizing), tanpa ketiganya, efisiensi gerak dalam waza adalah omong kosong. Efisiensi gerak tidak dapat diperoleh hanya dengan pemahaman anatomi, jika kita berpatokan pada anatomi semata, maka variasi tehnik akan sebanyak jumlah manusia di seluruh muka Bumi.

Ketiga prinsip diatas terintegrasi dalam latihan, yang selalu dilakukan secara berpasangan. Pada dasarnya, ketiga prinsip tersebut adalah benang merah, prinsip universal yang bisa menepikan semua kesulitan yang dihadapi untuk efisiensi tehnik yang secara khusus berkaitan dengan karakteristik anatomi fisik. Anda bisa saja dengan mudah menerapkan dai-ikkyo dengan uke yang memiliki karakteristik sama dengan dengan tubuh anda atau lebih kecil, tapi pada umumnya masalah mulai timbul ketika berhadapan dengan mereka yang lebih besar atau tinggi, dan jangan salah, kadang uke yang lebih kecil pun dapat mendatangkan masalah.

Apa saja yang bisa menjadi patokan umum untuk efisiensi gerak? Tidak terlalu sulit, berikut beberapa contoh simpel:

1. Bernafas dengan normal dan alami

Tidak seperti ilmu tenaga dalam, tidak ada aturan bagaimana nafas harus diatur ketika melakukan tehnik, “cara bernafas yang baik adalah bernafas dengan normal” Bergeraklah sesuai dengan aliran nafas, jadikan nafas sebagai patokan gerakan, bukan sebaliknya.

2. Gerakan yang alami

Ketika tangan atau kaki terasa tengah melakukan sesuatu yang abnormal, maka sebaiknya anda berhenti dan memeriksa apa yang tubuh anda sedang lakukan. Tidak ada gerakan yang abnormal dalam tehnik Aikido.

3. Rileks

Distribusi tenaga dalam tehnik Aikido dilakukan seperlunya, dengan kata lain, tenaga yang dikeluarkan hanyalah tenaga yang diperlukan untuk bergerak. Hampir seluruh eksekusi tehnik dalam Aikido merupakan hasil distribusi energi potensial yang dihimpun melalui gerakan, oleh karena itu, tenaga yang dikeluarkan semata adalah tenaga untuk bergerak, yang kemudian menghasilkan energi potensial, dan selanjutnya didistribusikan ke tubuh uke.

Ketika setidaknya tiga patokan diatas sudah biasa diterapkan, maka sedikit demi sedikit badan secara individual akan menilai sendiri, gerakan-gerakan apa yang dapat disederhanakan atau bahkan tidak diperlukan, sehingga tehnik akan menjadi lebih sederhana bentuknya, distribusi energi potensial yang lebih lancar, waktu yang lebih cepat, serta gerakan yang lebih ringkas dan efisien. Perlu diingat secara tehnis, tehnik dimulai dari solid (segi empat), tajam (segi tiga), dinamis (lingkaran), hingga akhirnya efisien (titik).


One response to “Latihan, Tahap 2, Efisiensi Gerak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: