Antara Latihan dan Realita

Berdasarkan pengalaman bertemu dengan praktisi dari berbagai disiplin ilmu beladiri modern, saya menemukan bagaimana sebagian besar ilmu beladiri masa kini jatuh ke dalam jurang perkembangan zaman.

Sama seperti sebagian dari ilmu beladiri modern yang berkembang menjadi cabang olahraga sport kompetisi, Aikido yang merupakan ilmu beladiri non-kompetisi berkembang menjadi kegiatan gaya hidup seperti Yoga dasar dan Taichi senam, yang dilakukan untuk sekedar mengisi waktu, mencari teman, atau bahkan hanya untuk gaya semata. Nasib ini tidak hanya dialami oleh para praktisi Aikido, bertemu dengan beberapa praktisi Karate dan Taichi, mereka pun mengungkapkan rasa prihatinnya akan perkembangan ilmu beladiri menjadi sport belaka.

Salah satu praktisi senior Judo, yang juga merupakan salah satu uchi-deshi dari O-sensei, mengungkapkan keprihatinannya akan perkembangan Judo di kancah internasional sebagai ilmu beladiri sport kompetisi ring yang mengedepankan perolehan nilai dan mengesampingkan nilai-nilai Budo, namun ia tidak hanya berdiam diri dan mengambil inisiatif untuk melatih murid-murid Judo-nya dengan nilai-nilai tradisional dalam ilmu beladiri.

Beberapa praktisi disiplin ilmu lain seperti Karate Go-Ju-Ryu, Yang-style Taichi, Silat tradisional juga telah banyak mengembalikan konsep dalam disiplin ilmu mereka ke nilai aslinya. Berkecimpung dalam Aikido selama lebih dari satu dekade, membuat saya pribadi cukup fanatik dengan disiplin ilmu ini, namun inferioritas saya berkembang ketika bertemu para praktisi dari disiplin ilmu beladiri lain. Pola pikir terbuka dalam studi ilmu beladiri sangatlah penting, sikap ini menjamin berkembangnya ilmu dan adaptabilitas dari kemampuan yang kita miliki

Ada banyak Aikido-ka yang telah lama berlatih namun berpikir dengan pola pikir yang sempit, sehingga mereka pada satu titik membentur dinding dan berhenti berkembang. Salah satu contoh yang sangat banyak terjadi adalah bagaimana para Aikido-ka menganggap disiplin ilmunya sebagai satu set kumpulan teknik yang dapat diaplikasikan langsung ke dalam realitas pertarungan sungguhan, kesalahan yang amat besar.

Apapun disiplin ilmunya, saya berpandangan bahwa tidak ada satupun disiplin ilmu beladiri yang dapat langsung menciptakan praktisi yang mampu terjun ke dalam realitas pertarungan, karena bagaimanapun, konsep dari latihan ilmu beladiri adalah simulasi atau meneliti prinsip, jadi, kita tidak mungkin menciptakan seorang petarung yang “battle ready” dengan disiplin ilmu beladiri apapun, terkecuali jika seorang praktisi setiap harinya mendapatkan kesempatan untuk terjun dalam tawuran massal yang tidak direncanakan, atau jika ia terjun langsung dalam suatu peperangan.

Dua perbedaan ini, antara simulasi dan kenyataan perang, yang kemudian menjadi jurang antara praktisi disiplin ilmu beladiri kuno dan modern. Dalam pelatihan ilmu beladiri kuno, simulasi tetap mempertimbangkan poin-poin yang didasari oleh pengalaman di lapangan. Ada beberapa metode latihan yang secara signifikan membedakan keduanya. Ilmu beladiri kuno mempertimbangkan pemakaian senjata, dinamika situasi dan kondisi pertarungan, serta adaptabilitas praktisinya, walaupun tetap dilatih dalam bentuk simulasi.

Sebagai contoh untuk membedakan antara latihan ilmu beladiri kuno dan modern adalah pemakaian istilah tolok ukur efektivitas teknik. Dalam ilmu beladiri sport kompetisi kita mengenal istilah-istilah seperti “masuk” dan “poin” ketika serangan yang kita lakukan berhasil mengenai target dan berjalan seperti seharusnya, namun dalam ilmu beladiri kuno satu istilah yang sangat sering didengar adalah “mati”. Ilmu beladiri kuno selalu melatih para praktisinya dengan menempatkan mereka dalam situasi yang lemah, hal ini yang kemudian melatih mental serta kemampuan berpikir dalam situasi terdesak. Ilmu beladiri kuno mengedepankan “survival”, sedangkan ilmu beladiri sport kompetisi mengedepankan “kemenangan”. Konsep non-kompetisi menjauhkan Aikido dari konsep “menang-kalah”, namun dengan tidak adanya kompetisi menjatuhkan sebagian praktisi ke dalam jurang yang berbeda, dimana teknik tidak lagi mempertimbangkan realita perkelahian, pertarungan dan peperangan.

Pola latihan yang monoton di dojo menyebabkan praktisi mengira bahwa tidak ada perbedaan antara latihan di dojo dan kenyataan di lapangan, maka ketika seorang Aikido-ka menjajal kemampuannya menghadapi seorang Karate-ka misalnya, ia pun akan berusaha keras mengaplikasikan tsuki kote-gaeshi, dan, nol besar. Perlu diingat adanya perbedaan antara realitas dan latihan, apa yang biasa kita lakukan di dojo tidak akan pernah terjadi di lapangan, ini mengingatkan saya dengan ucapan seorang shihan dalam satu sesi seminar:

“Anda tidak mungkin bisa mempraktekkan tsuki kote-gaeshi dalam pertarungan yang sesungguhnya, kalaupun bisa, itu berarti anda sedang beruntung atau lawan anda lamban. Namun bukan berarti teknik ini percuma dilatih, satu poin yang bisa anda dapat dari latihan teknik adalah anda terbiasa untuk masuk (irimi) kedalam titik buta (shikaku) lawan tanpa terkena serangannya”

Saya sempat menekuni Taekwon-do selama dua tahun selama masa remaja, dan mulai menekuni Aikido ketika mulai kuliah, saat ini saya tengah meneliti Karate tradisional dibantu oleh salah satu junior, serta sempat berdiskusi dengan beberapa praktisi Taichi. Saya mendapati bahwa masing-masing disiplin ilmu memiliki metodenya masing-masing dalam melatih praktisinya menghadapi realita, sesuatu yang agak sulit didapat dalam latihan Aikido

Sekali lagi saya ingatkan bahwa ada banyak praktisi yang menganggap teknik mereka dapat diaplikasikan secara mentah-mentah dalam realita pertarungan, sehingga ini menyebabkan latihan menjadi ajang memanjakan diri dengan teknik-teknik indah yang lembut, atau angan-angan bahwa seorang penodong di sebuah gang sempit akan menyerang anda dengan tsuki yang melaju secara linear, dan mereka selalu bekerja sendirian.

Dalam perkembangannya O-sensei memang mengembangkan Aikido dengan konsep yang jauh berbeda dengan Daito-ryu Aiki-jujutsu, namun ini bukan berarti kita harus memangkas habis semua aspek realita peperangan dalam latihan. Yang perlu selalu diingat adalah, latihan diatas matras adalah latihan prinsip, baik dari segi fisik maupun mental, sehingga dalam prakteknya, prinsip harus selalu diterjemahkan lagi kedalam bahasa yang berbeda, yaitu realita.

Realita
Dalam satu kesempatan, saya sempat menjadi asisten teknis wasit dalam turnamen nasional Taekwon-do, saya duduk disamping seorang praktisi Taekwon-do senior yang mengkritik bagaimana pelatih-pelatih Taekwon-do modern membiarkan para atlitnya berpaling dari lawan ketika ia berhasil mencetak poin untuk melakukan selebrasi.

“Mereka kemudian tidak terlatih untuk menghadapi realita di luar sana, kesiagaan mereka hilang ketika poin berhasil dicetak. Dalam kenyataannya, seorang penodong tidak semudah itu berhenti menyerang jika tendangan anda masuk, kebiasaan ini akan membuat anda melakukan “yeah” (berseru sambil mengepalkan tangan) ketika tendangan mengenai sasaran, lalu anda akan lengah untuk merayakan kesuksesan dan penyerang anda kemudian kembali merangsek maju untuk membunuh anda, mereka lupa, di luar sana tidak ada wasit”

Tidak hanya di Taekwon-do, ini hanya salah satu contoh, hal yang sama saya temukan diucapkan sendiri oleh seorang praktisi Silat, dan hampir di semua beladiri sport kompetisi “celebration syndrome” ini berkembang, tidak terkecuali di Aikido yang notabene adalah disiplin ilmu beladiri non-kompetisi, tapi memang tidak semua beladiri sport kompetisi menderita sindrom ini, kemampuan membedakan realita dan latihan hanya bisa ditanamkan dengan metode latihan yang tepat serta pola pikir yang benar.

Dalam Aikido, “celebration syndrome” terwujud dalam hilangnya “zanshin” atau “constant awareness and mindfullness” dalam latihan teknik, seorang nage akan dengan mudah meninggalkan uke-nya dan beranggapan pertarungan selesai ketika teknik juga selesai, kita berpaling dan sejenak lengah untuk merayakan suksesnya “waza”, sedangkan dalam realita, lawan akan bangkit kembali dan melempari anda batu dari belakang.

Latihan
Berlatih dengan tingkat realita tertentu di dojo bukan berarti kita harus berlatih dengan tingkat stres yang tinggi. Kenyataan dalam latihan dapat tetap ditanamkan dalam teknik dengan metode-metode tertentu, seperti membiasakan teknik dilakukan tanpa putus atau memulai teknik dalam keadaan 0-0.

Dalam Aikido, keadaan 0-0 ini mengedepankan kejujuran dalam berlatih, uke bertugas untuk menyerang sepenuh hati dan nage juga harus mengakui jika ada kekurangan atau kegagalan dalam teknik. Sering kali, uke menghambat teknik nage karena ia terlebih dahulu sudah mengetahui secara penuh teknik yang akan dilakukan, perlu diingat, bagi uke ini adalah latihan yang buruk dalam mempersiapkan anda menghadapi realita, dalam kenyataannya, anda tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh penyerang di luar sana, dan berapa orang yang akan menyerang anda, lebih buruk lagi ketika anda menerima teknik dengan sepenuhnya mengesampingkan efektivitas.

Sedangkan poin yang perlu diingat sebagai nage, adalah bahwa teknik yang anda lakukan diatas matras hanyalah prinsip dan tidak dapat dipraktekkan mentah-mentah ketika anda harus terjun dalam pertarungan sesungguhnya. Inilah yang membedakan pola latihan “meneliti” dan “menghafal”. Nage berkesempatan mengevaluasi efektivitas dan menerjemahkan prinsip ke dalam aplikasi dalam pola latihan “meneliti”, sedangkan “menghafal” lebih ditekankan untuk membiasakan badan bergerak dan untuk keperluan kurikulum.

Saya membiasakan murid-murid saya untuk “janjian” dengan rekan latihannya mengenai metode mana yang ingin mereka gunakan ketika berlatih, ketika mereka hendak meneliti teknik, maka resistensi uke dan adaptasi teknik nage akan lazim terjadi. Namun ketika latihan lebih ditujukan untuk mempersiapkan ujian misalnya, maka latihan akan dilakukan dengan lebih mengalir. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu ada kalanya “meneliti” dapat dilakukan sembari “menghafal”, ini biasanya membutuhkan tingkat kepekaan yang tinggi dari kedua belah pihak, dan ketika mereka bisa masuk dalam situasi ini, maka studi untuk masuk ke dalam realita akan lebih mudah dilakukan

Dengan menulis artikel ini, saya berusaha untuk membuka mata praktisi untuk selalu mau terbuka akan hal-hal baru dan tidak terkungkung dalam pola pikir yang sempit berkisar seputar latihan dalam dojo saja. Seringkali saya mendapati kekecewaan praktisi dalam beladiri apapun, ketika mereka gagal menghubungkan antara realita dan latihan, hingga akhirnya mereka berhenti belajar, gagal memperoleh manfaat yang belum sempat mereka sentuh, serta lupa akan tujuan ilmu beladiri yang sesungguhnya, yaitu membentuk pribadi yang lebih baik serta jauh dari konflik dan egosentrisme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: